Seni Menuturkan Sejarah

February 25th, 2008 by tuanmalam

27.01.08, 13.10. Deretan angka yang berjajar di depan adalah angka yang akan kita lupakan dalam waktu tak lama setelah kita bangkit berdiri dari membaca tulisan ini. Ya, Anda benar: angka-angka itu adalah tanggal dan waktu kematian mantan presiden kita Soeharto.

Sejarah seringkali menjadi pelajaran yang membosankan para siswa. Siswa dijejali dengan nama tokoh, tempat dan tanggal suatu kejadian yang dianggap penting dalam suatu masa atau kurun waktu tertentu. Sejarah jadi tidak menarik. Membosankan. Bahkan, yang bosan mungkin termasuk gurunya.

Bulan Maret tahun lalu, dalam sebuah pertemuan yang diprakarsai Onghokham Institut dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, para guru Sejarah di Jakarta mulai menangkap gelagat siswa yang tak lagi menganggap penting mata pelajaran Sejarah. Pasalnya, mata pelajaran itu tak diujikan dalam Ujian Nasional. Namun, meskipun tak diujikan, semestinya tidak demikian gelagat yang dimunculkan, bukan? ***

Sejarah itu Penting

Nah, sadarkah kita bahwa sejarah itu penting? Mari, pertama-tama, kita renungkan bersama kenyataan ini.

Bung Karno menyatakan agar kita jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kita kenal dengan singkatannya: Jasmerah. Ya, sebuah bangsa dapat maju dan berkembang bila tak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama di masa lampau. Setiap kebohongan nantinya akan dibuktikan. Kebusukan cepat atau lambat akan tercium. Para penguasa di suatu bangsa dapat datang dan pergi, namun sejarahlah yang kelak akan memurnikan ketokohan hingga ideologi yang dibangun mereka — atau seseorang lain.

Sejarah akan menjadi penguji atas apa yang ditanam dan dibangun seseorang. Seperti kata Fotarisman Zaluchu dalam sebuah artikel: "Sejarah, lagi-lagi tidak dapat terus menerus berada di muka penuh kebohongan penguasa." Ia menguraikan bahwa setiap hal, terutama penguasa atau rezim, akan mengalami pemurnian-diri (self-purification) ketika dihadapkan dengan sejarah. Sejarah, yang di dalamnya memuat rekam-jejak perguliran waktu, akan menjadi hakim bagi setiap hal dalam kehidupan kita. Karenanya, mari kita sadari kenyataan besar ini: sejarah itu penting. ***

Tantangan bagi Pendidik

Bila orang menganggap bahwa sejarah itu membosankan, salah besar. Sejarah, ternyata bukan hanya dapat diajarkan dalam mata pelajaran Sejarah.

Ketika mengajarkan IPS untuk kelas 3 dengan materi pokok Pekerjaan di Masyarakat dan Pentingnya Semangat Kerja, saya menyiapkan beberapa kisah orang-orang yang berhasil dan gagal dalam pekerjaannya. Saya mengisahkan, di antaranya, Thomas Edison dengan segala ejekan yang diterimanya, bimbingan dan perhatian dari ibunya yang amat tabah, ketuliannya yang saya rasa justru disyukurinya untuk membuatnya abai terhadap segala cerca atas eksperimen-eksperimennya, hingga kebiasaannya memancing tanpa umpan untuk mencari inspirasi. Para murid tampaknya suka kisah ini!

Saya juga mengisahkan Lumiere bersaudara dari Prancis, dua orang yang tercatat sebagai penampil film pertama. Koran menolak membantu publikasi untuk karya perdana mereka, yang di kemudian hari justru amat menghebohkan dan menjadi tonggak lahir dan berkembangnya film.

Saya kaitkan Edison dan Lumiere dengan dunia pekerjaan. Saya tarik nilai-nilai positif dari semangat dan kerja keras mereka. Hasilnya mungkin tak tampak sekarang, namun paling tidak antusiasme yang tampak dalam pembelajaran bisa menjadi indikasi untuk kemungkinan pencapaian yang lebih besar, yang tidak terduga, dari kisah-kisah yang disampaikan itu.

Kita yang telah kelelahan dengan fakta, waktu, tempat, dan semua tetek-bengek itu, marilah kita merenung sejenak: apakah kisah yang menarik untuk diceritakan? Apakah kita hanya mengajar karena itu tugas kita, atau kita menyadari bahwa apa yang kita beri merupakan sebuah amal bagi kehidupan kita yang tak berpenghujung?

Syukurlah, kurikulum sekarang, KTSP, memberi ruang bagi kita untuk mengemas pembelajaran lebih independen. Kesempatan inilah yang semestinya menjadi ruang bagi kita untuk memberikan yang terbaik bagi para murid, seperti kata Winston Churchill: "Kita hidup dengan apa yang kita peroleh, namun kita memperoleh kehidupan dengan apa yang kita beri." Mari, berikanlah ilmu, inspirasi dan motivasi yang terbaik bagi murid-murid kita di zaman hidup yang serba susah ini. ***

Contoh-contoh Kegiatan Penarik Minat

Ketika ke perpustakaan untuk mencari bahan tulisan beberapa waktu lalu, seorang adik kelas saya waktu kuliah menanyakan pertanyaan yang tidak akan saya lupakan: "Lho kok ke perpus lagi, Mas? Kan skripsinya sudah selesai?" Nah, kita bisa mengukur seberapa besar minat baca seseorang dengan pertanyaan itu. Bagaimana dengan Anda? Masihkah Anda membaca? Masihkah Anda belajar?

Kita tak dapat menyuruh anak didik kita belajar sementara kita sendiri malas belajar. Semua pemimpin besar adalah pembaca yang serius. Jika Anda selama ini sudah puas dengan gaya, metode atau kegiatan pembelajaran Anda, baiklah kepuasan itu kita takar sejauh mana hasilnya: adakah perubahan yang signifikan? Selain dengan kisah-kisah inspirasional pelejit energi yang sudah saya sampaikan sekilas di atas, Thomas Armstrong, dalam bukunya Awakening Your Child’s Natural Genius menyarankan ada lima kegiatan yang dapat membangkitkan kecerdasan sejarah:

1. Pohon Keluarga

Ini bisa dibuat dengan menyertakan profesi, foto dan peran para generasi-generasi kita terdahulu dalam suatu peristiwa penting (perang kemerdekaan, misalnya).

2. Situs Sejarah

Ini sudah umum dilakukan: pergi ke tempat-tempat bersejarah.

3. Time Line atau Baris Waktu

Ini dapat dibuat dalam gulungan kertas panjang. Catat dan bagi-bagilah segmen waktu dalam gulungan itu. 500 tahun lalu, misalnya, apa yang terjadi? Berilah foto, keterangan, penemuan, apa pun yang bersejarah pada masa itu dalam tampilan yang semenarik mungkin.

4. Wawancara

Bila kita berkesempatan bertemu dengan tokoh yang melegenda karena karya dan pengabdiannya, coba wawancarai dan direkam suaranya, atau diambil gambarnya lewat handycam, putar atau tayangkan kembali dan diskusikan.

5. Simulasi Indra

Kegiatan ini amat merangsang historisasi (penyejarahan, atau penghayatan-pengalaman sejarah). Kegiatan ini bisa dilakukan lewat drama dengan mengenakan kostum, atribut, atau bahkan gaya bicara yang digunakan orang masa lalu. ***

Tugas guru Sejarah bisa dikatakan berat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan harus variatif; membaca dan belajar jadi wajib hukumnya. Namun, semua ini memang tantangan. Dan tugas yang berat ini berpulang kepada kita: maukah kita mengajar lebih baik?

Pada akhirnya, biarlah sejarah-sejarah yang kita tuturkan dapat dijadikan sebagai salah satu acuan para siswa dalam menapaki hidup: mercu suar kecil di tengah lautan kehidupan yang gulita dan berombak kalut. Ketika di masa kini mungkin sudah tidak ada lagi panutan bagi mereka dalam melangkah, setidak-tidaknya ada tokoh masa lalu yang bisa "berbicara" kepada mereka lewat guru-guru sejarah, Anda dan saya. ***

SAYEMBARA MENULIS NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA 2008

February 8th, 2008 by tuanmalam

Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel, Dewan Kesenian Jakarta kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel. Lewat sayembara ini, DKJ berharap akan lahir novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun pemula, yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi.

Ketentuan Umum:

- Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).
- Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
- Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
- Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa
- Naskah dan judul ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik
- Tema bebas

Ketentuan Khusus:

- Panjang naskah minimal 100 halaman A4, 1,5 spasi, Times New Roman 12
- Peserta menyertakan biodata dan alamat lengkap dalam lembar tersendiri, di luar naskah
- Lima salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim ke:

Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2008
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya 73
Jakarta 10330
Telp. 021-3193 7639 / 316 2780

- Batas akhir pengiriman naskah: 31 Agustus 2008 (cap pos atau diantar langsung)

Lain-lain:

- Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2008 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada akhir Desember 2008
- Hak Cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis
- Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat
- Pajak ditanggung pemenang
- Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta Periode 2006—2009

Hadiah
Juara I   Rp 20.000.000
Juara II   Rp 15.000.000
Juara III  Rp 12.500.000

dari: http://www.dkj.or.id/?opt=pages&cidsub=8&pages_id=263

Totalitas dan Kreatifitas

January 8th, 2008 by tuanmalam

Demille_c
"Give me two pages from the Bible, and I’ll give you a motion picture."
Berikan saya dua pasal dari Alkitab dan saya akan memberi Anda sebuah film. Yang menyatakan itu adalah seorang sutradara ternama. Namanya kini dijadikan sebagai salah satu jenis penghargaan di ajang Golden Globe bagi sineas yang sudah uzur dan punya karir panjang dalam dunia film, alias penghargaan seumur hidup (lifetime-achievement award). Namanya adalah Cecil B. DeMille.

DeMille, yang juga sering disebut deMille (dengan huruf "d" kecil) adalah seorang yang dikagumi karena kemampuan hebatnya dalam menyutradarai film. Dia menyutradarai salah satu film yang terkenal The Ten Commandements (1956). Dia juga mampu mendayagunakan orang-orang yang tak terkenal sebagai bintang film menjadi aktor-aktris hebat. 

Film-film yang disutradarinya tak kurang dari 80 judul! Sebuah totalitas yang luar biasa.
Di awal karirnya, tahun 1914, sebelas film ia sutradarai. Satu tahun sebelas film!

Penghargaan seumur hidup memang pantas diberikan bagi orang yang telah berjuang dengan komitmen seumur hidupnya untuk suatu bidang. Namun sayangnya, beberapa dari kita seringkali tak setia pada satu bidang untuk dikerjakan. Kita kurang totalitas.

"Indonesia masih kekurangan orang kreatif," kata Ir. Ciputra, pengusaha terkenal itu. Kreatifitas kita kurang, dan tumpul, karena kita tak memiliki totalitas. Totalitas dengan sendirinya melahirkan kreatifitas, karenanya mari kita belajar setia untuk mengerjakan apa yang harus kita kerjakan.

"Apa yang harus saya lakukan adalah semua yang saya perhatikan, bukan apa yang orang-orang pikir tentang diri saya." (Ralph Waldo Emerson)

Ditolak Koran

January 2nd, 2008 by tuanmalam

LumiereSejarah film mencatat Lumiere bersaudara dari Prancis sebagai dua orang penting. Mereka tercatat sebagai penampil film pertama. Film pertama mereka saya yakin sama sekali tak menarik bagi kita saat ini. Mau tahu? Rekaman kereta api yang sedang berjalan. Nah, arah jalan kereta api itu mendekati kamera.

Namun, tahukah Anda apa yang terjadi pada 32 penonton pertama mereka ketika menyaksikannya? Mereka lari tunggang langgang dari gedung pertunjukan ketika kereta yang tertampil di film itu "mendekati" mereka! Bagi mereka, film kereta Lumiere saat itu benar-benar heboh.

Lumiere bersaudara kemudian meraup kekayaan. Penonton mereka setelah film kereta api pertama mereka rata-rata tak kurang dari seribu orang. Namun, sebelum mereka sesukses itu, mereka pernah ditolak koran ketika hendak promosi film kereta api pertama mereka. Koran menolak membantu publikasi pemutaran film mereka.

Ternyata, yang pernah ditolak koran bukan hanya para penulis. Sebagai penulis yang karyanya puluhan kali ditolak, saya geli sekaligus merenung ketika menjumpai kenyataan ini. Para penulis, pencipta lagu, pelukis, penemu, siapa saja dengan profesi apa saja, rasanya pernah mengalami apa yang Lumiere alami. Kita ditolak. Orang tak yakin akan apa yang kita yakini luar biasa.

Namun, baiklah kita tak menyerah. Jikalau apa yang kita perjuangkan selama ini benar-benar kita yakini sebagai sesuatu yang hebat, ingatlah ada Tuhan yang melihat jerih lelah kita, dan ada pula waktu yang menjadi penguji setia bagi setiap niat dalam perjuangan kita.

Resolusi demi Resolusi

December 23rd, 2007 by tuanmalam

"Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kauinginkan dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kaurancangkan." (Mazmur 20:5)

Tahun telah berganti. Seperti biasa, resolusi baru harus dibuat. Ayo cari kertas! Tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu. Mari bergembira menyambut tahun baru!

Namun, bukankah kita sering pegal dan lelah di awal tahun? Kita tidur ketika pagi hampir tiba. Esoknya kita ingat bahwa ada selembar resolusi awal tahun lalu yang tergeletak dan terabaikan di dalam laci. Atau ia tergantung di dinding kamar, dihinggapi debu dan sarang laba-laba.

Tahun baru, kalau dipikir-pikir, adalah saat di mana kita paling banyak menguras tenaga untuk berpikir — juga terlalu banyak bergembira. Jadi lelah dibuatnya. Kita lelah untuk menjadi diri kita yang lebih baik. Kita lelah untuk membuat rencana ini-itu yang nyatanya nol pelaksanaan.

Kelelahan-kelelahan kita semestinya membuat kita mengubah persepsi. 1 Januari adalah sama seperti hari/tanggal lainnya. Sama-sama 24 jam. Sama-sama terdiri atas siang dan malam. Yang beda hanya apa yang kita lakukan. Karenanya, di hari lain pun kita dapat membuat resolusi. Dan resolusi itu perlu kita review tiap saat, bukan hanya saat 31 Desember atau 1 Januari.

Tak salah kita membuat resolusi baru di awal tahun ini. Namun baiklah kita sadar bahwa kita perlu selalu ingat apa yang telah kita resolusikan saat kita merenung kapanpun. Kita tak bisa mengabaikannya. Resolusi demi resolusi tak membuat hidup kita jadi lebih baik, justru lebih repot dan tertekan, kalau semata-mata kita buat untuk ikut-ikutan dan gaya-gayaan.

Selamat tahun baru!

Nongkrong di Pasar Hongkong

November 15th, 2007 by tuanmalam

Nostalgia. Mungkin itu adalah sesuatu yang dapat menghilangkan stres. Lagu-lagu nostalgia laris-manis. Film-film lama yang mengesankan berulang-ulang tayang di televisi dan dicari-cari. Begitu juga teman-teman lama. Teman-teman lama, dalam situasi tertentu, dapat pula mengusir penat.

Dari 8 hingga 20 Oktober 2007 saya berada di Kalbar. Selama di sana saya sempat bertemu beberapa teman lama di Singkawang, kota di mana saya dibesarkan dulu semasa TK hingga SLTP. Di suatu malam kami nongkrong di Pasar Hongkong, sebuah tempat ngumpul yang buka  dari jam sembilanan malam hingga subuh.

Berbagai kenangan lama yang sebelumnya hanya tersimpan di ingatan bawah sadar mencuat-cuat. Teman yang dulu pernah saya gebuki karena suka mengejek nama bapak saya tertawa-tawa tanpa beban. Teman yang mainannya pernah saya curi tak menunjukkan tanda-tanda mendendam. Puji Tuhan, saya meninggalkan Kalbar dalam keadaan di mana saya tak memiliki ganjalan berupa dendam terhadap semua teman saya. Jadi, semuanya menikmati nostalgia.

Setelah derai tawa kami surut, kopi-kopi yang kami minum habis, saya berpikir tentang hubungan antar manusia dengan segala pasang-surutnya. Kita semua sering mengalami konflik, namun baiklah kita sadari bahwa dengan siapapun kita mengalami konflik, marilah kita selalu memiliki hubungan yang tetap baik. Karena, ketika suatu saat bertemu lagi dengan teman lama, hubungan yang baik membuat nostalgia terasa manis.

Produktivitas dan Publisitas

November 14th, 2007 by tuanmalam

King_stephen Stephen King, penulis horor dan thriller tenar itu, saya dapati menyinggung soal produktivitas dan publisitas dalam dua bukunya. Buku pertama adalah memoarnya yang berjudul On Writing. Di sana ia berkisah pernah mengirimkan sebuah karya yang ditolak oleh sebuah majalah besar. Setelah punya cukup nama dengan menerbitkan beberapa karya lain, karya yang sama ia coba-coba kirim ke majalah yang sama. Eh, dimuat.

Buku lain yang saya dapati menyinggung hal yang sama adalah novelnya yang berjudul Bag of Bones. Di sini, tokoh utamanya, Michael Noonan, adalah seorang novelis yang diminta oleh sebuah penerbit untuk menerbitkan karyanya berkala. Nah, suatu ketika Michael kelimpungan merampungkan novel. Ia lalu mengirimkan novel usang yang sudah mendekam di laci selama 12 tahun dan belum diterbitkan! Diterima, dan bahkan karya itu dipuji penerbit!

Penulis muda mana pun saya rasa pernah stres dengan penolakan. Karena profesi penulis sedikit mendapatkan tekanan dan dukungan dari luar, tak sedikit penulis muda yang akhirnya putus asa dan mundur.

"Berkaryalah terus," kata Pramoedya Ananta Toer, sastrawan tenar itu, "dan jangan pikirkan karyamu kelak diterbitkan atau tidak." Pramoedya sendiri semasa hidupnya berpeluang kecil untuk mempublikasikan karyanya.

Bagi kita yang bukan penulis, baiknya juga belajar hal yang penting di sini bahwa produktivitas adalah sesuatu yang lebih utama dibandingkan publisitas. Yang terakhir kita dapatkan setelah memiliki yang pertama dalam kadar tinggi.

Rasa Bersalah yang Kepanjangan

November 6th, 2007 by tuanmalam

Dalam cerpennya berjudul Matinya Seorang Buruh Kecil, Anton Chekov menunjukkan betapa berbahayanya rasa hormat dan rasa bersalah yang berlebihan. Inilah yang terjadi pada Ivan Kreepikov.

Ivan bersin suatu ketika menonton opera musik lucu. Nah, sang jendaral ternyata terkena bersinnya yang muncrat. Kreepikov terus-terusan merasa bersalah. Dia berulang-ulang meminta maaf. Sudah disuruh pergi, dia datang lagi… dan lagi. Lebih dari lima kali ia meminta maaf untuk cipratan wahing-nya.

Hingga akhirnya, pada suatu ketika… Ivan mati. "Sesuatu bergejolak dalam perutnya…," demikian tulis Chekov, setelah Ivan minta maaf yang kesekian kali kepada sang jendral. Karena permohonan maafnya, ia dibentak keras oleh sang jendral. Mungkin, setelah itu, sang jendral menembak perutnya.

Pernahkah kita seperti Ivan? Cerpen-cerpen Chekov memang kebanyakan satir — sebagai ajang meledek pemegang kekuasaan yang korup nan bengis di masanya. Namun, dalam kasus Ivan, kematiannya juga disebabkan karena kebodohannya. Pernahkah kita seperti Ivan yang begitu takut kepada seseorang karena sebuah kesalahan?

Pernahkah kita merasa sebuah kesalahan terhadap seseorang begitu membebani hidup kita? Saat ini marilah kita bangkit dari rasa bersalah yang kepanjangan. Rasa bersalah itu perlu, namun setelah kita memohon ampun pada yang kita salahi, juga kepada Tuhan, habis perkara.

"Kesalahan yang tidak diampuni setelah diakui jangan dijadikan alasan kegelisahan; kuasa-Nya sanggup mengubah hati yang keras menjadi lembut."

Segera Memulai!

October 13th, 2007 by tuanmalam

Finding Forrester, sebuah film yang berawal dari kecintaan terhadap dunia perbukuan dan kepenulisan, mengajarkan kepada saya bagaimana caranya memulai sesuatu.

William Forreseter dalam film ini adalah seorang pemenang penghargaan sastra tertinggi di Amerika: Pulitzer. Namun, ia menghilang dan menyendiri setelahnya. Sampai suatu ketika seorang pemuda kulit hitam menemuinya. Mereka ternyata punya kesamaan minat. Sang pemuda pun lalu berguru dengannya.

Bagian yang paling mengesankan dalam film ini adalah nasihat sang pemenang Pulitzer. "Pertama-tama, tulis konsep tulisan dengan hatimu, lalu tulis kembali dengan kepalamu. Faktor pertama dalam menulis adalah menulis, bukan berpikir," katanya.

"Mulailah menulis. Mulailah dengan halaman pertama. Seringkali irama ketikan datang dari halaman pertama ke halaman kedua. Waktu kau merasakan kata-katamu, mulailah mengetiknya," lanjut William.

Tampaknya, bila direnungkan, apa yang menjadi pesan dalam film ini juga berlaku dalam sisi kehidupan kita yang lain, bukan? Manusia dengan segala bidang yang digelutinya akan jadi mahir di bidangnya jika mereka mau memulai. Gagasan sehebat apapun akan tampak bodoh jikalau tidak ada yang memulainya. Nah, bagi kita yang selama ini kadang suka terlalu lama dalam merencanakan, mari kita mulai bertindak. Perenungan, bahkan konsep, teori dan metodologi itu penting. Dan akan sangat luar biasa bila hal-hal penting itu kita sikapi sesuai dengan kepentingannya: memampukan kita untuk memulai — segera memulai!

"Inspirasi tak datang dari perenungan yang berlama-lama, namun perenungan yang disertai tindakan untuk melangkah."

Menghidupi Tujuan dengan Rendah Hati

October 13th, 2007 by tuanmalam

Beberapa buku membuat pembacanya bertingkah aneh. Beberapa buku membuat orang jadi pembunuh. Il Principe karangan Machiavelli dibaca beberapa pemimpin negara yang kemudian menjadi diktator-pembunuh. Namun, sebuah buku dengan genre serupa teenlit (cerita untuk remaja) ternyata juga mampu "menginspirasi" beberapa pembunuhan.

Itu adalah Catcher in the Rye, karya J.D. Sallinger, yang mengisahkan kehidupan remaja bernama Holden Caufield. Pembunuhan yang terkenal dilakukan Mark David Chapman pada John Lennon, vokalis The Beatles. Mark meminta John menandatangani buku itu suatu pagi. Tak lama kemudian, ia menembaknya. John Lennon tewas.

Holden dalam kisah ini adalah seorang remaja pemarah, yang tak pernah menyukai apapun dalam hidupnya. Segalanya sampah baginya. Ia dikeluarkan dari sekolah karena tak serius belajar, dan mudah berang pada siapapun yang ditemuinya.

Di buku ini sebenarnya sudah ada sebuah nasihat penting dari seorang guru Holden menjelang akhir kisah. Dinyatakan di sana, bahwa orang yang belum dewasa mau mati demi suatu tujuan, tapi orang yang sudah dewasa mau hidup dengan rendah hati untuk mencapai tujuan itu. Nasihat itulah yang menempelak Holden.

Cukup disayangkan nasihat ini tak direnungkan mendalam oleh para pembunuh-pembaca novel ini. Mereka hanya menyimak amarah demi amarah yang tertuang dalam hampir keseluruhan kisahnya. Nah, nasihat itu kini berpulang kepada kita: maukah kita hidup dengan rendah hati untuk mencapai sebuah tujuan? Semoga.

"Orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan hidupnya mengharamkan komitmen, dedikasi dan loyalitas, yang disertai integritas."