Selalu Ada “Tempat Lain”

1344695786_e8a1846fd0_o_1
"Perlu ada upaya melihat,
upaya melihat dengan menjungkirbalikkan segala makna yang sudah ada,
untuk sampai pada yang tak dikenal,
hidup sejati yang berada di tempat lain …."

Sepenggal puisi di atas adalah karya Arthur Rimbaud. Tahun 1874, saat berusia dua puluh tahun, ia tergila-gila berkelana ke mana-mana, hingga ia akhirnya mati di Marseille pada 10 Oktober 1891.

Nah, dia pernah "nyasar" ke Indonesia!

Apa yang menyebabkan dia ke Indonesia hingga kini masih samar. Diduga, itu karena ia mendengar kisah-kisah tentang Hindia-Belanda waktu bekerja sebagai kuli di pelabuhan. Pada bulan Juli tahun 1876 ia sampai di Indonesia. Ia sempat ada di Jakarta dan di Salatiga. Berada di tangsi militer jiwanya gundah. Penyair ini tidak cocok. Ya, dia nyasar. Diam-diam ia meninggalkan Indonesia dan kembali ke negerinya, Prancis.

Puisinya di atas adalah sebentuk pemetaan dari realitas-demi-realitas tangkapannya hasil kelana-demi-kelana. Renungan memang jadi sangat luar biasa bila dipadu dengan kelana. Bahwa kebahagiaan-kesedihan yang berusaha kita gerapai suka-dukanya kadang terenungi keliru dan semrawut ketika dihadapkan dengan kelana.

Di dunia ini, akan selalu ada "tempat lain" (kutipan dari puisi yang ditulis Rimbaud di atas) untuk kita cari dalam rangka membentuk makna sebuah sisi kehidupan. Manusia selalu mencari dan tidak puas, sehingga baiklah kita menyadari sebuah keadaan penting: bahwa saat ini, di sini, ada sesuatu yang penting dan berharga untuk kita raih. Bahwa saat ini, di sini, ada sesuatu yang harus kita kerjakan dan beri perhatian untuk membuat hidup kita memiliki makna. (~s.n~)

"Kebijaksanaan datang sendiri melalui penderitaan." (Aeschylus)

One Response to “Selalu Ada “Tempat Lain””

  1. harus Says:

    haiya…

Leave a Reply