Gelisah Memaknai Keindahan
Tahun 1889, Prancis memperingati seabad revolusinya. Negara itu melaksanakan peresmian menara Eiffel. Di kaki menara metalik raksasa itu tampak beberapa gong perunggu dan gamelan Jawa. Seorang komponis muda berbakat terpana ketika mendengar suaranya dan di kemudian hari berkomentar: "Jika Anda mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, And
a harus mengakui bahwa musik kita tak lebih dari sekedar bunyi-bunyi dasar sirkus keliling." Komponis itu bernama Claude Debussy.
Terlepas dari kemampuan orang Barat yang tampak lebih lihai daripada kita dalam mengajarkan musik lewat partitur, penggolongan irama, bahkan tablatur untuk gitar, Debussy terkesan dengan "getaran keindahan suara itu sendiri." Suara itu beresonansi secara indah, membuatnya boyak terhadap harmonisasi nada-nada yang selama ini menjadi kekuatan dan pesona bagi musik-musik Barat.
Debussy memadukan musik Barat dan gamelan, karena dirasanya gamelan adalah sebuah seni bernilai tinggi, sementara kita selama ini yang hidup "bersama gamelan" mungkin menganggap musik Barat bernilai lebih tinggi.
Debussy, dalam jiwanya yang gelisah, mencoba tafsirkan apa yang ia gapai dan tangkap dalam kepekaannya lewat karya yang sarat kombinasi. Belajar dari seniman ini, kita seolah diajak melihat bahwa keindahan ada di mana-mana. Memaknai keindahan, jiwa kita yang fana dan sementara ini kerap berubah-ubah selera. Musik adalah seni. Hidup adalah seni. Menghayati hidup bagai menghayati seni. Keduanya butuh kepekaan. (~s.n~)
"Poleslah kebijaksanaan Anda: pelajari kebijaksanaan umum, bedakan antara baik dan jahat, pelajari berbagai falsafah berbagai seni satu demi satu." (Miyamoto Musashi)