Siap Menang, Siap Kalah
Setelah mengajar, seringkali evaluasi atas pelajaran yang saya sampaikan, saya bungkus lewat kuis. Saya membagi anak-anak dalam beberapa kelompok, lalu beberapa babak kuis dilaksanakan: mulai dari tebak lagu dari nada-nada yang saya mainkan lewat gitar, tebak gambar yang dibuat oleh seorang siswa di papan tulis, atau cerdas cermat seputar materi yang telah disampaikan.
Anak-anak kecil seringkali tak siap kalah. Bahkan, orang besar juga. Makanya, tak jarang ada anak-anak yang menangis bila kelompoknya mendapatkan nilai yang kecil, atau terkecil, saat kuis digelar. Menyiasatinya, suatu ketika setelah mengajar saya menuliskan besar-besar di papan: "Siap Menang, Siap Kalah." Semua anak saya minta untuk mengucapkan empat kata itu keras-keras. Lalu, saya bertanya: "Siapa yang mau kuis hari ini?"
Hampir seluruh kelas mengangkat tangan. Ketika tangan-tangan mereka turun, saya bertanya lagi, "Bagaimana jika ada yang kalah?" Seisi kelas diam. Lalu saya tunjuk kata-kata di papan yang saya tulis. Anak-anak tersenyum. Kuis berjalan dengan lancar.
Manusia — besar atau kecil — semuanya sebenarnya menyukai tantangan. Seorang anak yang sering kalah saat kuis, bagi saya tampak selalu bersemangat dan terus mencoba menjawab dengan benar. Persoalannya hanya satu: kita tidak diajarkan untuk siap kalah. Kita berjuang, melakukan yang terbaik, belajar, karena merasa harus menang. Kita perlu siap kalah karena kita tak selalu menang. Kita harus siap kalah karena dunia ini kadang tidak berlaku adil kepada kita. (~s.n~)
"Seseorang yang belum pernah ditipu tidak dapat menjadi seorang pebisnis yang baik." (Peribahasa Cina)