Publish or Perish

Sekarang, dunia penerbitan-perbukuan tak seperti dulu. Lihatlah toko-toko buku. Orang-orang mudah menerbitkan buku, walau sebelumnya tak punya nama dan pengalaman akademis yang relevan dan memadai dalam dunia tulis-menulis. Zaman dulu, menerbitkan buku itu susah.

Gejolak ini adalah sinyal yang baik di satu sisi. Bangsa Indonesia jadi demokratis. Jauh sebelum Indonesia mengalami kemajuan ini, di Amerika telah ada tren atau slogan yang berbunyi "publish or perish" — "terbitkan atau mati". Saya mendapat slogan ini dalam buku Wishnubroto Widiarso berjudul Pengalaman Menulis Buku Nonfiksi. Publish or perish adalah slogan di kalangan ilmuwan di Amerika. Ilmuwan bisa menerbitkan buku karena menekuni benar apa yang dia geluti. Latar belakang ini, seharusnya menjadi cermin bagi para penulis kita: sudahkah ia menekuni benar apa yang ia tulis?

Sinyal yang buruk adalah semua orang berlomba-lomba untuk menerbitkan buku — tanpa penyaringan yang ketat, tanpa memikirkan manfaat buku yang ditulisnya, tanpa mempedulikan akibat isi bukunya, atau tanpa penggarapan yang serius.

Kehidupan kini telah menjadi serba-instan. Mi instan, minuman instan, segala yang instan, kita tahu seringkali tak sepenuhnya baik. Junk foods, begitu istilahnya — makanan sampah. Ada efek sampingnya, kata para pakar kesehatan. Begitu pula buku-buku instan. Karenanya, waspadai bacaan Anda, jangan sampai Anda membaca junk books — buku-buku sampah. (~s.n~)

"Kekuatan sebuah pohon terletak pada akarnya - bukan pada cabangnya." (Peribahasa Belanda)


One Response to “Publish or Perish”

  1. Maredo Says:

    I like ur posts. Inspiring!

Leave a Reply