Faktor B dalam Depresi
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28)
Sebuah buku baik ternyata tak harus tebal dan mahal. Baru-baru ini saya membaca sebuah buku tipis nan lawas karya Lanny W. Baily. Judulnya Mengatasi Persoalan Hidup. Buku ini mencoba mengurai persoalan-persoalan yang dialami manusia dalam terang firman Tuhan, dikaitkan dengan psikologi populer.
Salah satu hal menarik adalah bahasan tentang depresi. Di sana dikatakan bahwa yang paling besar porsinya dalam membentuk depresi di diri seseorang adalah sebuah faktor B. Apa itu? Faktor A adalah kejadian, B adalah persepsi dan C adalah depresi. Seorang istri yang suaminya kurang perhatian lagi padanya (A), dapat membuat persepsi bahwa dirinya kini tak menarik lagi (B), sehingga dia kemudian depresi (C). Begitu kira-kira.
Jadi, yang salah bukanlah apa yang terjadi. Yang salah adalah persepsi, pendapat, interpretasi kita, atau apalah nama dan istilahnya: intinya yang kita buat sendiri dengan diawali dan disebabi sebuah peristiwa dalam hidup kita. Saya jadi teringat sebuah kata-kata bijak yang menyatakan: "Kehidupan bukanlah hal-hal yang terjadi dalam diri kita, tapi bagaimana sikap kita terhadap hal-hal yang terjadi itu."
Bagaimana? Selama ini apakah kita masih sering mudah berpikiran negatif? Ketika kita mudah menafsirkan hal yang tampak buruk sebagai sesuatu yang benar-benar buruk, maka benak kita akan selalu dipenuhi dengan hal-hal yang buruk. Padahal, Tuhan berjanji, di dalam segala sesuatu Ia turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, bukan keburukan.
"Yakinkanlah, bahwa kehidupan yang Anda kejar, cukup berharga untuk diperjuangkan sampai mati." (Charles Mayes)
December 16th, 2008 at 6:50 am
Funny foto here