Dua Cara Belajar-Berkarya
Seorang teman saya, penulis fiksi, mempunyai impian untuk dapat Booker Prize, penghargaan yang amat bergengsi dalam dunia kepenulisan. Ia bukan seorang megalomania — bermimpi besar tanpa melakukan apa-apa. Ia sudah mengarang dua buku dan terus produktif. Nah, untuk mencapai impian itu ia mengungkapkan cara belajar-berkarya yang amat menarik untuk disimak.
Untuk semakin baik menulis, dia menyatakan membaca dua jenis buku. Jenis pertama adalah buku yang benar-benar bagus. Jenis kedua adalah buku yang buruk. Lho, kenapa yang jenis kedua juga dibaca? Nah, inilah poin pentingnya: bila karya buruk bisa diterbitkan, dibaca, hingga digemari, bukankah berarti semua karya mempunyai peluang diterbitkan?
Cara kedua yang disampaikan teman saya itu baik. Sebagai penulis, bila seseorang membaca karya-karya bagus terus, ia pasti akan frustasi: bahwa sampai mati pun mungkin ia tidak akan bisa menulis sebagus karya itu!
Saya tidak sedang mengajak Anda untuk menurunkan standar atau niat pencapaian Anda dengan mempelajari karya atau hasil usaha orang lain yang kita nilai buruk atau biasa-biasa saja. Dua cara belajar-berkarya ini, pada hakikatnya menunjukkan bahwa tiap manusia dikaruniai tingkat bakat yang berbeda-beda.
Hakikat hidup adalah berkarya. Dalam berkarya sering kita tidak sempurna, dan kemudian kecewa. Itulah yang harus kita tepis, seraya mencoba lebih dan lebih baik, dengan melihat karya-karya lain: yang lebih baik dan yang lebih buruk. (~s.n~)
"Seni menjadi bijaksana adalah tahu apa yang harus diabaikan." (Anonymous)