Antara Hidup dan Mati

Condamné à mort!

Dihukum mati! Ya, siapa yang dapat memetakan pikiran seseorang yang tinggal beberapa saat saja menjalani hidup? Victor Hugo mencoba tuturkan apa-apa saja yang melintasi benak seseorang yang akan dihukum mati dalam Le dernier jour d’un condamné (Hari Terakhir Seorang Terpidana Mati).

Di sana, digambarkan bahwa setiap menit berisi gagasan. Mimpi bagai menyatu dengan kenyataan. Kepedihan membaur dengan kengerian. Hidup, setiap saat, serasa amat berarti. Bahkan, segala sesuatu yang dilihat, dirasa, diraba — semuanya dicoba untuk dicari-cari detilnya, sebagai bahan untuk dituangkan dalam kata-kata yang terbatas, untuk memaknai hidup dalam waktu yang merambat.

Salah satu renungan terpidana yang menghenyakkan adalah: "Semua orang telah dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan yang tidak ditentukan." Bukankah benar demikian? Bukankah suatu saat kita mati? Yang menjadi masalahnya adalah: kadang kita lupa suatu saat kita akan mati.

Kematian memang bukan akhir segalanya. Namun, cara kita menyongsong kematian itu penting. Itu tergantung pada hingga sejauh mana kita mempertahankan apa yang kita percayai selama hidup kita. Kalau selama hidup kita goyah iman, bagaimana kita bisa yakin dengan iman itu kalau maut menjemput? C.S. Lewis berkata, "Engkau tidak akan pernah tahu seberapa besar kepercayaanmu mengenai sesuatu hal sampai hal itu menjadi masalah antara hidup dan mati." Ya, hingga nafas terakhir terhembuskan, setialah pada iman kita! (~s.n~)

"Ketakutan selalu muncul dari ketidaktahuan." (Ralph Waldo Emerson)

Leave a Reply