Rasa Bersalah yang Kepanjangan

Dalam cerpennya berjudul Matinya Seorang Buruh Kecil, Anton Chekov menunjukkan betapa berbahayanya rasa hormat dan rasa bersalah yang berlebihan. Inilah yang terjadi pada Ivan Kreepikov.

Ivan bersin suatu ketika menonton opera musik lucu. Nah, sang jendaral ternyata terkena bersinnya yang muncrat. Kreepikov terus-terusan merasa bersalah. Dia berulang-ulang meminta maaf. Sudah disuruh pergi, dia datang lagi… dan lagi. Lebih dari lima kali ia meminta maaf untuk cipratan wahing-nya.

Hingga akhirnya, pada suatu ketika… Ivan mati. "Sesuatu bergejolak dalam perutnya…," demikian tulis Chekov, setelah Ivan minta maaf yang kesekian kali kepada sang jendral. Karena permohonan maafnya, ia dibentak keras oleh sang jendral. Mungkin, setelah itu, sang jendral menembak perutnya.

Pernahkah kita seperti Ivan? Cerpen-cerpen Chekov memang kebanyakan satir — sebagai ajang meledek pemegang kekuasaan yang korup nan bengis di masanya. Namun, dalam kasus Ivan, kematiannya juga disebabkan karena kebodohannya. Pernahkah kita seperti Ivan yang begitu takut kepada seseorang karena sebuah kesalahan?

Pernahkah kita merasa sebuah kesalahan terhadap seseorang begitu membebani hidup kita? Saat ini marilah kita bangkit dari rasa bersalah yang kepanjangan. Rasa bersalah itu perlu, namun setelah kita memohon ampun pada yang kita salahi, juga kepada Tuhan, habis perkara.

"Kesalahan yang tidak diampuni setelah diakui jangan dijadikan alasan kegelisahan; kuasa-Nya sanggup mengubah hati yang keras menjadi lembut."

Leave a Reply