Ketika Berbaring di Ranjang Istirahat
Friday, May 25th, 2007"TUHAN membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya." (Mazmur 41:3)
Berbaring di ranjang istirahat
Kiranya damai meliputi
Bukan hanya raga kembali kuat
Semakin teguh pula jiwa dan hati
Baru-baru ini saya dirawat di rumah sakit seminggu. Inilah kali pertama selain ketika dilahirkan saya dirawat di rumah sakit akibat sakit yang dirasa cukup parah. Saya mengidap gejala tipes dan demam berdarah. Selama seminggu di sana, saya bersyukur karena memiliki banyak waktu untuk mengenang kebaikan Tuhan dalam hidup ini — saat-saat di mana saya dapat benar-benar beristirahat.
Sahabat dan guru saya, Arie Saptaji, menuliskan puisi di atas untuk menghibur dan menguatkan saya. Ketika membacanya, saya merenung: dengan apa kita dapat merasa damai sambil berbaring ketika sakit, lalu raga, jiwa dan hati ini dikuatkan dan diteguhkan kembali?
Jawabannya tak lain adalah firman Tuhan. Saya membuka dua kitab kesukaan saya, Mazmur dan Pengkhotbah. Dua kitab ini, terutama Pengkhotbah, banyak mengungkap tentang hidup-mati manusia. Rasanya sangat cocok dibaca — atau dibacakan untuk — mereka yang sedang sakit.
Waktu sakit jiwa kita dipenuhi harapan akan datangnya kesembuhan. Mungkin juga harapan dan bayangan akan datangnya kematian (bila sakit seseorang telah amat payah). Ketika sakit banyak waktu kita tergunakan untuk mengenang perbuatan baik, juga dosa, yang membuat kita berkaca pada diri sendiri. Bagi mereka yang takut akan Allah, sakit, entah berujung pada kesembuhan atau kematian, merupakan gerbang bagi pemulihan jiwa yang merindukan damai dan keadaan yang lebih baik.
"Akhir dari sebuah sakit, baik kematian atau kesembuhan, akan disambut dengan sukacita oleh orang yang hatinya telah memohon didamaikan dengan Allah."