Archive for May, 2007

Ketika Berbaring di Ranjang Istirahat

Friday, May 25th, 2007

"TUHAN membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya." (Mazmur 41:3)

Berbaring di ranjang istirahat

Kiranya damai meliputi

Bukan hanya raga kembali kuat

Semakin teguh pula jiwa dan hati

Baru-baru ini saya dirawat di rumah sakit seminggu. Inilah kali pertama selain ketika dilahirkan saya dirawat di rumah sakit akibat sakit yang dirasa cukup parah. Saya mengidap gejala tipes dan demam berdarah. Selama seminggu di sana, saya bersyukur karena memiliki banyak waktu untuk mengenang kebaikan Tuhan dalam hidup ini — saat-saat di mana saya dapat benar-benar beristirahat.

Sahabat dan guru saya, Arie Saptaji, menuliskan puisi di atas untuk menghibur dan menguatkan saya. Ketika membacanya, saya merenung: dengan apa kita dapat merasa damai sambil berbaring ketika sakit, lalu raga, jiwa dan hati ini dikuatkan dan diteguhkan kembali?

Jawabannya tak lain adalah firman Tuhan. Saya membuka dua kitab kesukaan saya, Mazmur dan Pengkhotbah. Dua kitab ini, terutama Pengkhotbah, banyak mengungkap tentang hidup-mati manusia. Rasanya sangat cocok dibaca — atau dibacakan untuk — mereka yang sedang sakit.

Waktu sakit jiwa kita dipenuhi harapan akan datangnya kesembuhan. Mungkin juga harapan dan bayangan akan datangnya kematian (bila sakit seseorang telah amat payah). Ketika sakit banyak waktu kita tergunakan untuk mengenang perbuatan baik, juga dosa, yang membuat kita berkaca pada diri sendiri. Bagi mereka yang takut akan Allah, sakit, entah berujung pada kesembuhan atau kematian, merupakan gerbang bagi pemulihan jiwa yang merindukan damai dan keadaan yang lebih baik.

"Akhir dari sebuah sakit, baik kematian atau kesembuhan, akan disambut dengan sukacita oleh orang yang hatinya telah memohon didamaikan dengan Allah."

Mengenang Empat Tahun Lalu

Monday, May 14th, 2007

Empat tahun lalu, 2003, saya ikut di sebuah konser-seminar doa. Kalau tidak salah, selama tanggal 14-17 Mei. Tajuk acara ini adalah National Prayer Conference. Momen ini amat bersejarah bagi saya.

Di salah satu hari, Gus Dur turut datang. Suzzette Hattingh, salah satu pembicara dalam seminar ini, selain menubuatkan Gus Dur soal kepemimpinannya di bangsa ini, juga menubuatkan beberapa hal lain, termasuk lahirnya penulis-penulis Kristen di bangsa ini yang kelak diharapkannya menjadi terang dan berkat buat Indonesia.

Di acara puncak, di Gelora Bung Karno yang dipadati 80.000-an orang untuk berdoa, di sebuah sudut yang gelap, saya menulis sebuah puisi. Puisi itu, saya sisipkan dalam sebuah cerpen yang saya buat berdasarkan catatan perjalanan saya menggunakan kereta Matarmaja pulang-pergi berjudul "Senandung Harap Theo", akhirnya dimuat di majalah GFresh! bulan Oktober 2003.

Nah, inilah puisi itu:

Purnama 16 Mei

ia akan jadi saksi
bagi puluhan ribu orang
yang ada di sini untuk berdoa

ia akan jadi saksi
bagi api kesatuan rohani
yang menyala pada sebuah obor raksasa

ia akan jadi saksi
bagi setiap puji, sembah dan doa
bernafas lirih-harap
yang membanjiri tahta-Nya

ia akan jadi saksi
bagi ikrar persatuan
untuk tujuan mulia: transformasi bangsa

aku berdoa

pencipta Purnama, malam ini indah
persatuan telah terwujud, tekad telah terbentuk
saat sinarnya terpancar, kemuliaan-Mu tersaksikan
dan biar surga bergetar dan terhias dengan senandung harap kami
: "S’lamatkan Indonesia! S’lamatkan Indonesia!"

Gelora Bung Karno, Jakarta, 16 Mei 2003