Archive for March, 2007

Saya Menjadi Guru

Friday, March 16th, 2007

Puji Tuhan, saya diterima jadi guru di Yayasan Pendidikan Jaya setelah melalui beberapa tahapan penyaringan (psikotes, wawancara, dan mengajar di kelas). Saya tak menduga, pelamar yang mendaftar sampai berjumlah 300 orang. Dari 300 orang itu, saya termasuk 6 orang yang beruntung dari wilayah Jawa Timur.

Yayasan ini adalah bagian dari PT Pembangunan Jaya yang merupakan salah satu grup dirian dan binaan Ciputra. 20 Maret s.d. 20 April ini saya akan magang di Sekolah Pembangunan Jaya di Jakarta.

Magang akan dilanjutkan lagi di Surabaya, pada tanggal 20 April s.d. 20 Juni. Baru, setelah itu akan diangkat jadi guru di sekolah tersebut. Bagi saya, sekolah ini modern.

Semoga ini menjadi awal terwujudnya impian saya untuk menjadi guru dan penulis seumur hidup.

Tak Selamanya tak Ada Apa-apanya

Tuesday, March 13th, 2007

Yohanes Surya, ketika kembali dari Olimpiade Fisika di tahun 1999, membawa kenyataan pahit ini: Indonesia menjadi negara peringkat ke-70 dari 70 peserta olimpiade itu. Ia pernah mengaku bahwa banyak orang yang memandangnya sebelah mata akibat prestasi yang mengecewakan itu.

Namun, kita tahu semua apa yang terjadi tahun 2006 lalu. Ia dan tim yang dibimbingnya menjadi juara pertama! Kali ini ia dipandangi orang-orang dengan kedua mata mereka. Ya, bahkan presiden pun menyambut kemenangannya yang gilang-gemilang itu!

Tujuh tahun bukanlah masa yang singkat untuk terus berjuang dan berbenah diri dalam upaya pencapaian yang besar. Kalikanlah angka 7 dengan 365, maka kita akan lebih tepat dalam membayangkan perjuangan beliau.

Kita yang sedang berjuang untuk suatu pencapaian di masa depan, mungkin saat ini juga kerap mendapat anggapan yang miring atas perjuangan kita. Orang mungkin menganggap kita tak mampu, tak akan berhasil… tak ada apa-apanya.

Banyak orang yang mundur ketika sedang berjuang. Kemunduran itu terjadi karena mereka tak dapat menikmati proses perjuangan itu. Kita kerap ingin pembuktian instan untuk jadi terpandang. Kita perlu memahami bahwa Tuhan menikmati setiap detil proses yang kita jalani dengan tekun dan sabar. Ialah saksi untuk setiap hari yang kita lalui dalam merealisasikan perjuangan kita. Selama kita tekun dan sabar, kelak kita — dan orang lain — akan melihat hasilnya: perjuangan kita tak selamanya tak ada apa-apanya.

"Seseorang belum berakhir ketika ia dikalahkan, melainkan ketika ia berhenti." (Richard Nixon)

Berkarya di Kehidupan tak Berpenghujung

Tuesday, March 13th, 2007

Seorang teman di sebuah milis kepenulisan menulis kepada saya: "bagaimana menghadapi kegagalan dan tulisan yang ditolak?" Ia kemudian menyatakan bahwa dirinya akan frustasi jikalau selama beberapa tahun hanya mampu menulisi diari saja dan karya-karyanya yang lain tak terpublikasikan secara luas. Sebenarnya saya sudah menuangkan apa yang menurut saya baik untuk dilakukan tentang hal ini dalam artikel berjudul "Ketika Tulisan tak Layak Muat dan Kalah Lomba", tapi ketika merenungi pertanyaan ini lagi, saya tergerak untuk menuliskan beberapa hal yang saya rasa cukup penting. Inilah jawaban saya, yang saya beri judul "Berkarya di Kehidupan tak Berpenghujung".

***

"berkarya di kehidupan tak berpenghujung"

tulisan yang tak layak muat/terbit memang membuat frustasi. saya sendiri mengalaminya puluhan kali. tulisan yang dianggap tak layak muat oleh suatu media pernah saya ubah jadi lebih baik, oper ke media lain, tapi tetap saja tak layak muat, oper lagi, dan seterusnya sampai berkali-kali, hingga akhirnya saya simpan sampai saat ini. saya rasa banyak penulis yang juga mengalami hal ini. tapi saya yakin bahwa setiap orang yang mau berhasil perlu kegigihan untuk terus mencoba. yang perlu ditambahkan dalam kegigihan itu adalah kerendahan hati untuk mau belajar.

kegigihan untuk terus mencoba, plus kesediaan untuk belajar ini, menurut saya akan terus dilakukan oleh orang yang memiliki cinta akan sesuatu. bila kita menjadikan uang dan/atau pengakuan orang lain sebagai dasar utama dalam membangun dunia kepenulisan, kita akan kecewa. karena itu sebelum terjun lebih jauh menekuni sesuatu, saya selalu bertanya pada diri sendiri: apakah dasar yang terutama dalam penekunan ini? kalau jawabannya uang, keterkenalan, atau cewek cantik, saya memutuskan untuk tak menekuninya lebih jauh. ya, kita perlu dasar yang kuat untuk menangkal setiap bentuk kegagalan yang bakal kita terima di kemudian hari.

karena kegagalan dan penolakan berkali-kali, mungkin ada orang yang memutuskan untuk menerbitkan sendiri karyanya. hal ini juga dapat didukung anggapan bahwa penerbit bisa saja salah menilai naskah yang sebenarnya bagus, selain bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar. di indonesia, menerbitkan buku sekarang sudah jauh lebih mudah daripada dulu. kita tak perlu memiliki surat izin pendirian usaha penerbitan, tapi cukup mendaftar di perpustakaan nasional untuk mendapatkan isbn dengan membayar 20-30 ribu perak. ini sah-sah saja, walau dengan cara demikian semestinya tak lantas membuat penulis mengabaikan kualitas karyanya karena tak dihadapkan pada penilaian beberapa orang (baca: penerbit/redaktur) yang bolehlah kita asumsikan sebagai pihak yang dapat menilai baik-buruknya sebuah karya, terlepas dari kekeliruan yang saya sebut tadi: bahwa mereka, sebagai manusia, dapat salah menilai tak bagus sebuah naskah yang sebenarnya bagus.

kembali pada soal ketekunan.

setahu saya, orang-orang yang bertekun untuk mencoba dan belajar di dalam segala sesuatu, kemampuan (skill) mereka akan terlatih. adalah xenophanes, kalau tidak salah, yang gagap dalam bertutur kata, tapi sangat ingin jadi orator. ia pun kemudian memasukkan pasir-pasir di pantai ke dalam mulutnya dan mulai berlatih berkata-kata. syukurlah ia berhasil menghalau kegagapannya dan kemudian menjadi orator ulung. ini membuktikan bahwa semua orang (yang waras) dapat meningkatkan kemampuan atau skill-nya selama ia mencintai apa yang ia tekuni. dan, saya senang dengan kata-kata dari john ruskin yang menyatakan: "when love and skill work together, expect masterpiece."

banyak orang yang terpanggil, tapi sedikit yang setia. sedikit orang yang berkesetiaan seperti kafka, yang selama hidup tak sempat melihat karyanya terpajang di rak-rak toko-toko buku. tapi, saya kerap merenung: apakah kafka telah "mati"? bukankah kita semua hidup dalam kehidupan tak berpenghujung?

bagi saya, ketika kalah dalam sebuah lomba, naskah dinyatakan tak layak muat/terbit, akan membuat saya terus berjuang untuk menghasilkan karya yang lebih baik. visioner manapun akan bersikap seperti demikian. mereka tahu bahwa sekalipun mereka mati dan tak diakui dunia sebagai penulis hebat, misalnya, mereka mati dengan cara terhormat. karena apa? mereka mati saat mereka terus berjuang menjadi lebih baik; bukan mati setelah memutuskan berhenti berjuang akibat kegagalan yang bertubi-tubi.

beberapa orang yang saya kenal menganggap pemikiran ini terlalu naif atau nyinyir. tapi sejauh ini saya tetap bersiteguh dengan pandangan ini. saya sengaja mengaitkan kepenulisan dengan hidup-mati karena bagi kita yang mau serius menulis, persoalan ini bukan sekedar upaya mengisi waktu luang atau terapi psikologis dalam upaya aktualisasi diri. ya, ini persoalan hidup dan mati! ada tugas untuk mencerdaskan orang lain; untuk memberi sentuhan rohani bagi pembaca kita lewat setiap kata yang kita tuangkan dalam upaya memaknai hidup.

akhirnya, selama hidup, hingga kita mati, jikalau kita tahu bahwa kita terpanggil sebagai penulis, setiakah kita akan panggilan itu? semoga. ya, semoga kita setia, karena saya yakin: sesungguhnya ada ganjaran yang pantas bagi kesetiaan dan kegigihan yang akan kita terima dalam kehidupan tak berpenghujung ini.

demikian penjelasan saya yang mungkin agak panjang-lebar. semoga berkenan. saya menulis semua ini di pergantian malam, ketika relung hati saya merenung-renung mencari dan memberi makna dalam setiap butir perjuangan yang sedang ditempuh.

salam,
~s.n~

p.s.:

kalau sempat, saya anjurkan, baca buku andrias harefa berjudul "agar menulis-mengarang bisa gampang". di salah satu bagian buku itu dikisahkan beberapa orang yang mengalami kegagalan berkali-kali dalam berpublikasi, namun tetap gigih.

Eddie Van Halen akan Masuk Sarana Rehabilitasi

Saturday, March 10th, 2007

Eddie_van_halen_jumpLOS ANGELES, KAMIS - Eddie Van Halen (52) akan masuk ke sebuah sarana rehabilitasi untuk alasan-alasan yang tak dirinci. Ia telah mengeluarkan keterangan itu pada Kamis (8/3) waktu Los Angeles.

Dalam sebuah pernyataan bagi para penggemarnya, lewat situsnya, www.van-halen.com, gitaris tersebut mengatakan bahwa ia memutuskan untuk memeroleh terapi karena, "Saya tak merasa bahwa saya bisa memberi anda yang terbaik." Lanjutnya, "Itu mengapa saya telah memutuskan untuk memasuki sebuah sarana rehabilitasi untuk memberi dampak bagi diri saya, sehingga di masa depan saya dapat memberi 110 persen yang, saya rasa, saya berutang kepada anda dan saya ingin beri kepada anda."

Tak diketahui apakah Van Halen akan hadir dalam acara pengabadian bandnya, Van Halen, pada Rock and Roll Hall of Fame, Senin (12/3) di New York. Operator situs Van Halen menolak untuk mengeluarkan rincian lebih lanjut.

(Dari: www.kompas.com/ver1/Hiburan/0703/09/155421.htm)

***

Ini surat dari situs resminya:

I would like Van Halen fans to know how much I truly appreciate each and every one of you. Without you there is no Van Halen.

I have always and will always feel a responsibility to give you my best. At the moment I do not feel that I can give you my best. That’s why I have decided to enter a rehabilitation facility to work on myself, so that in the future I can deliver the 110% that I feel I owe you and want to give you.

Some of the issues surrounding the 2007 Van Halen tour are within my ability to change and some are not. As far as my rehab is concerned, it is within my ability to change and change for the better. I want you to know that is exactly what I’m doing, so that I may continue to give you the very best I am capable of.

I look forward to seeing you in the future better than ever and I thank you with all my heart.

Love, Ed

(Dari: www.van-halen.com)

***

Semoga lekas sembuh, Bang Eddie. All of your fans, I believe, said this: "Can’t stop lovin’ Van Halen!!!"

***

Sejarah: Penting walau Kian Terisisih

Tuesday, March 6th, 2007

Mata pelajaran Sejarah tampaknya mulai dipandang remeh oleh para siswa SMA di Jakarta. Pasalnya, pelajaran ini tak turut diujikan dalam Ujian Nasional (UN). Begitulah yang terlapor di Kompas Kamis, 1 Maret 2007, sebagai hasil pertemuan guru-guru Sejarah beberapa SMA di Jakarta yang diprakarsai Onghokham Institute dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Secara logis UN mau tak mau tak mau membuat siswa menyusun prioritas. Bukan hanya Sejarah, pelajaran-pelajaran lain di luar yang diujikan dalam UN yang mengujikan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika, rasanya juga akan turut tersisihkan. Alih-alih menuding UN sebagai biang penyisihan, perlu juga dipertanyakan: pembelajaran Sejarah itu sendiri, selama ini, sudahkah segenap prosesnya benar-benar dianggap dan dijalankan dengan penghargaan yang semestinya oleh guru dan murid?

Pentingnya Sejarah

Sejarah adalah salah satu ilmu tertua. Para filsuf sebelum Masehi mempelajari Sejarah — yang kemudian diikuti Politik — setelah Astronomi dan ilmu-ilmu alam. Kata "sejarah" berasal dari kata Arab "šajaratun" yang artinya pohon. Pohon dalam konteks ini tertuang pada metodologi ilmu Sejarah ketika menjabarkan atau merekamkan sebuah riwayat, yang lazim disebut historiografi. Historiografi, yang awalnya hanya sebatas penulisan sejarah para raja, cakupannya kemudian berkembang luas hingga merambah ke tataran budaya, tradisi, kehidupan sosial atau ekonomi suatu masyarakat. Ini menyebabkan Sejarah kerap disebut sebagai ibu dari ilmu-ilmu sosial lainnya.

E.H. Carr, dalam bukunya bejudul "What is History" menyatakan bahwa sejarah adalah suatu dialog yang tidak berkesudahan antara masa sekarang dengan masa lampau. Pentingnya mendialogkan masa kini dan masa lalulah yang disadari benar oleh Bung Karno hingga beliau suatu ketika pernah berpesan agar rakyat jangan melupakan sejarah. Ya, kita akrab dengan singkatannya: "Jasmerah". Singkatan ini, pada mula ia dicetuskan, benar-benar meresap dalam lubuk nurani rakyat karena jiwa nasionalis yang masih kuat pada saat itu.

Sebuah bangsa dapat maju dan berkembang bila tak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama di masa lampau. Bahkan, dalam tataran individu sejarah memungkinkan seseorang untuk belajar dari orang-orang di masa silam saat baginya, di masa kini (mungkin) tak ada lagi orang yang bisa dijadikan pelajaran.

Peluang dan Tantangan Bagi Guru

Ketidakmunculan Sejarah dalam UN (hanya dalam Ujian Akhir Sekolah, atau UAS) tak lantas membuatnya kian tersisih. Hal ini semestinya justru membuat para guru Sejarah menyadari adanya kesempatan berharga yang dapat diberikan dalam proses belajar-mengajar. UAS yang sifatnya otonom akan memberi peluang besar bagi guru untuk memainkan perannya dalam penyampaian materi Sejarah di dalam kelas. Pembelajaran sejarah jadi lebih variatif dan inovatif: tak melulu menghapal nama kejadian, tempat, orang, tahun dan/atau peristiwa penting.

Pembelajaran Sejarah bisa jadi amat menarik karena dapat disampaikan dengan kegiatan-kegiatan kunjungan ke wilayah-wilayah bersejarah, atau museum, misalnya. Tak hanya itu, di dalam kelas pun Sejarah dapat menjadi pelajaran yang motivatif dan berpesan moral tinggi. Nilai-nilai penting yang dapat digali dari ulah seorang diktator — Hitler misalnya — dapat menjadi inspirasi berharga agar siswa tak suka menguasai orang lain. Siswa dapat diinspirasi agar tak mudah menyerah ketika dituturi kisah hidup Abraham Lincoln, misalnya.

Tentu, pembelajaran variatif nan inovatif tersebut menjadi milik para guru yang suka belajar. Guru dituntut untuk tahu dan menguasai lebih banyak, juga merenung lebih banyak. Guru tak lagi tampil sebagai orang yang lebih menguasai materi semalam lebih dulu daripada siswa. Guru yang mengeluhkan siswanya bosan mempelajari Sejarah juga perlu berkaca: apakah selama ini ia tak bosan dalam menggali pesona sejarah? Ketika menyadari hal ini, niscaya guru dapat memainkan perannya yang mulia menjadi sosok yang reflektif dan bijak dalam menjadi penerjemah sejarah di tengah-tengah generasi muda yang kian kehilangan arah.