Satu Tulisan di Dua Koran
Resensi karya N. Mursidi, cerpenis asal Rembang, Jawa Tengah dan wartawan majalah Hidayah atas buku "Sastra dan Agama" karya Marwan Saridjo terbitan Yayasan Ngail Aksara dan Penamadani Jakarta, tahun 2006, dimuat di dua media yang berbeda pada hari yang sama, Minggu, 25 Februari 2007, dengan judul "Centang Perenang Sastra Religius" di Seputar Indonesia (Sindo) dan "Sastra Profan dan Kearifan Agamawan" di Jawa Pos (JP).
Dua resensi itu secara keseluruhan hampir sama persis kata-kata dan kalimat-kalimatnya; resensi yang termuat di Sindo lebih pendek sekitar 50 sampai 100-an kata. Kata-kata dalam paragraf pertama di kedua resensi itu (versi cetak di koran) mutlak sama. Karena kemiripan yang tinggi ini, saya menduga tulisan (resensi) yang sama oleh penulis dikirim ke dua media berbeda — dengan judul tulisan yang berbeda pula. Kemudian, redaktur medianya yang mengubahnya sedikit-sedikit, menyesuaikan dengan kapasitas ruang yang tersedia. Di situs masing-masing koran, Anda bisa membandingkan sendiri. (Saya melampirkan dua link-nya di bawah.)
Dugaan saya tadi membuahkan pertanyaan yang saya tujukan kepada rekan-rekan saya yang lebih senior, yang tulisan-tulisannya juga pernah dimuat di media-media nasional, lewat SMS: "Resensi N. Mursidi atas buku Sastra dan Agama dimuat di JP dan Sindo. Memang kalau resensi boleh ‘menembak’ dua media sekaligus?"
Wawan Eko Yulianto, teman saya sekota, menjawab dengan sedikit panjang-lebar: "Tidak ada pembatasan seperti itu, Mas. Tapi kadang-kadang koran enggak mau ada tulisan yang pernah/sedang dimuat di tempat lain. Tapi itu juga enggak (mesti, saya). Coba kalau yang menulis resensi/esai Asvi Warman Adam, Kompas pun mau menerbitkan bekasnya JP (misalnya, saya). Tapi yang paling kebakaran jenggot biasanya penulis, soalnya jatah kuenya diambil orang lain."
Arie Saptaji, suhu saya, singkat saja komentarnya: "Enggak, sama dengan tulisan lain, kecuali surat pembaca, hehe…."
Slamat P. Sinambela, rekan saya, menjawab: "Harusnya enggak bisa. Kalau medianya tahu, bisa di-blacklist dia. Mengutip — enggak menulis — saja dihajar Kompas Jateng." (Kalimat terakhir saya duga adalah pengalaman pribadinya.)
Saya tidak tahu adanya kemungkinan pesanan dari pihak redaksi JP dan Sindo kepada Pak Mursidi untuk menulis resensi yang sama. Itu akan lain ceritanya. Sejauh ini, saya beranggapan kalau karya tulis yang sedang dikirim masih belum mendapat kabar atau sedang dipertimbangkan layak/tidak terbitnya, dan/atau pernah dimuat di media (majalah/koran/penerbit/dll.) komersial tertentu, tak boleh dikirim ke media (majalah/koran/penerbit/dll.) komersial lain.
Lampiran: