Archive for February, 2007

Yeap, Departed is the Best!

Monday, February 26th, 2007

Nah kan… Departed menang di Oscar! Enggak tanggung-tanggung, Best Direction dan Best Picture disabet sekaligus! Selain itu Departed juga dapat Oscar untuk Best Film Editing dan Best Adapted Screenplay.

Busyet, keren banget ya Martin Scorsese! Lima kali dinominasi baru kali ini menang Oscar. Kate Winslet juga punya rekor karir bagus: di usia yang tergolong muda (31), ia sudah dinominasi lima kali, sama seperti Martin Scorsese, hanya dia belum beruntung menggondol Oscar. Yang paling kasihan adalah Kevin O’ Connell, yang telah dinominasi 19 kali (!) untuk Sound/Sound Editing, tapi enggak pernah menyabet Oscar.

Mmm… Departed, selamat deh! Dari pertama nonton saya sudah yakin kalau film ini bakal jadi pemenang (walau keyakinan ini enggak didasari dengan menonton nominasi-nominasi lain; hanya yakin saja sih, soalnya filmnya bagus banget). Keterangan lengkap lihat di sini.

Satu Tulisan di Dua Koran

Monday, February 26th, 2007

Resensi karya N. Mursidi, cerpenis asal Rembang, Jawa Tengah dan wartawan majalah Hidayah atas buku "Sastra dan Agama" karya Marwan Saridjo terbitan Yayasan Ngail Aksara dan Penamadani Jakarta, tahun 2006, dimuat di dua media yang berbeda pada hari yang sama, Minggu, 25 Februari 2007, dengan judul "Centang Perenang Sastra Religius" di Seputar Indonesia (Sindo) dan "Sastra Profan dan Kearifan Agamawan" di Jawa Pos (JP).

Dua resensi itu secara keseluruhan hampir sama persis kata-kata dan kalimat-kalimatnya; resensi yang termuat di Sindo lebih pendek sekitar 50 sampai 100-an kata. Kata-kata dalam paragraf pertama di kedua resensi itu (versi cetak di koran) mutlak sama. Karena kemiripan yang tinggi ini, saya menduga tulisan (resensi) yang sama oleh penulis dikirim ke dua media berbeda — dengan judul tulisan yang berbeda pula. Kemudian, redaktur medianya yang mengubahnya sedikit-sedikit, menyesuaikan dengan kapasitas ruang yang tersedia. Di situs masing-masing koran, Anda bisa membandingkan sendiri. (Saya melampirkan dua link-nya di bawah.)

Dugaan saya tadi membuahkan pertanyaan yang saya tujukan kepada rekan-rekan saya yang lebih senior, yang tulisan-tulisannya juga pernah dimuat di media-media nasional, lewat SMS: "Resensi N. Mursidi atas buku Sastra dan Agama dimuat di JP dan Sindo. Memang kalau resensi boleh ‘menembak’ dua media sekaligus?"

Wawan Eko Yulianto, teman saya sekota, menjawab dengan sedikit panjang-lebar: "Tidak ada pembatasan seperti itu, Mas. Tapi kadang-kadang koran enggak mau ada tulisan yang pernah/sedang dimuat di tempat lain. Tapi itu juga enggak (mesti, saya). Coba kalau yang menulis resensi/esai Asvi Warman Adam, Kompas pun mau menerbitkan bekasnya JP (misalnya, saya). Tapi yang paling kebakaran jenggot biasanya penulis, soalnya jatah kuenya diambil orang lain."

Arie Saptaji, suhu saya, singkat saja komentarnya: "Enggak, sama dengan tulisan lain, kecuali surat pembaca, hehe…."

Slamat P. Sinambela, rekan saya, menjawab: "Harusnya enggak bisa. Kalau medianya tahu, bisa di-blacklist dia. Mengutip — enggak menulis — saja dihajar Kompas Jateng." (Kalimat terakhir saya duga adalah pengalaman pribadinya.)

Saya tidak tahu adanya kemungkinan pesanan dari pihak redaksi JP dan Sindo kepada Pak Mursidi untuk menulis resensi yang sama. Itu akan lain ceritanya. Sejauh ini, saya beranggapan kalau karya tulis yang sedang dikirim masih belum mendapat kabar atau sedang dipertimbangkan layak/tidak terbitnya, dan/atau pernah dimuat di media (majalah/koran/penerbit/dll.) komersial tertentu, tak boleh dikirim ke media (majalah/koran/penerbit/dll.) komersial lain.

Lampiran:

Resensi di koran Sindo

Resensi di koran Jawa Pos

Solusi Bencana bagi Indonesia

Saturday, February 10th, 2007

Solusi bagi bencana yang terjadi di Indonesia menurut saya dikembangkan dari jenis bencana yang terjadi. Di akhir tahun 2006 hingga awal tahun 2007 ini bencana yang terjadi sebagian besar disebabkan karena kelalaian manusia, bukan ketidaksengajaan atau karena faktor alam seperti tsunami yang terjadi di Aceh pada beberapa tahun silam. Secara garis besar, bencana yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini terjadi akibat kurangnya perawatan yang diberikan pada alat-alat transportasi (1) dan kelalaian dalam memperhatikan kesinambungan alam (2).

Bencana yang menimpa manusia lewat alat-alat transportasi (kapal laut, pesawat udara dan kereta api) seharusnya membuat pemerintah meninjau kembali kelayakan guna alat-alat tersebut. Pihak yang berwajib sebagai pengontrol kelayakan alat-alat tersebut perlu ditinjau ulang kinerjanya. Perlu juga anggaran yang lebih besar dari Departemen Perhubungan untuk dialokasikan pada perawatan alat-alat transportasi hingga perekrutan teknisi yang berkualifikasi baik dalam merawatnya (terutama teknisi yang dipekerjakan untuk alat-alat transportasi yang bersistem kerja rumit dan membutuhkan keahlian khusus seperti pesawat, kereta api, juga kapal laut).

Dalam bencana alam seperti banjir atau tanah longsor, selain mengembangkan wacana berikut kerja dan antisipasi bencana terkait pelestarian alam, amdal dan penanganan sampah, pemerintah perlu memaksimalisasi potensi ahli-ahli ilmu meteorologi (cuaca), ekologi (lingkungan) dan planologi (tata kota). Ada ramalan yang menyebutkan bahwa pemanasan global akan meninggi hingga beberapa tahun mendatang. Hal ini nyata dan tertuang dalam geliat alam yang berupa gelombang panas dan hujan lebat yang akan kian sering turun. Ketiga ilmu ini, yang sangat erat hubungannya dengan alam, menjadi tantangan tersendiri bagi ahli dan peminat di dalamnya untuk dapat menampilkannya sebagai peminimal — bahkan penangkal — bencana. Perlu ada apresiasi yang diberikan pemerintah untuk meningkatkan keseriusan para ahli ilmu-ilmu ini untuk belajar, bereksperimen, dan bahkan menimba ilmu dari negera-negara lain dalam menangani bencana.

Rutinitas Itu Perlu

Friday, February 9th, 2007

"Orang yang berhasil adalah orang yang tak pernah berhenti untuk belajar." (Erich Watson) Banyak orang membenci istilah "rutinitas". Begitu mendengarnya mungkin kita segera mengait-ngaitkannya dengan kebosanan. Namun, sadarkah kita bahwa rutinitas itu perlu?

Seorang ahli syaraf, Richard Restaak, M.D. menyatakan dalam bukunya "Smart and Smarter" bahwa jika kita teratur berlatih dan kemudian dapat memainkan sebuah lagu dengan piano atau mengayunkan golf dengan benar, maka kemampuan kita akan bertambah. Bukan hanya dalam hal piano atau golf, tapi rasanya hal ini berlaku dalam alat musik lain dan bahkan hal-hal lain. Kita akan melihatnya pada tokoh-tokoh di bawah ini.

Kate DiCamillo, yang menulis buku "Because of Winn Dixie" (sudah difilmkan) dan beberapa buku lain yang meraih penghargaan Newberry (penghargaan bergengsi untuk buku anak yang terbaik di Amerika) menulis apa saja dua halaman sehari selama lima hari dari hari Senin sampai Jumat (hari Sabtu dan Minggu ia meliburkan diri). Ia melakukannya pada saat jam empat pagi sebelum berangkat ke toko buku untuk bekerja.

Andrias Harefa, motivator terkenal yang dulu sempat dijuluki pakar MLM di Indonesia itu, mengaku menulis sehalaman sehari. Dan bila ia berhasil menulis dua halaman, ia akan meliburkan diri keesokan harinya.

John Petrucci, gitaris rock ternama dari grup band Dream Theater, mengaku berlatih dua jam sehari untuk melatih empat teknik bergitar yang berbeda.

John Steinbeck, pengarang Amerika yang terkenal lewat karyanya berjudul "The Grapes of Wrath", pemenang Pulitzer itu, menyatakan kalau ia akan segera menuju mesin ketiknya dan menulis apa saja ketika bangun tidur. Betapa pun tak tertata pemikirannya, ia menulis dan mengetik saja selama beberapa saat. Ketika tiba waktunya mandi, ia mandi. Setelah mandi, ia menulis ulang apa yang telah ditulisnya tadi dengan lebih tertata.

Orang-orang dengan pencapaian yang tinggi hidup dalam rutinitas. Mereka menjadi orang-orang dengan produktivitas dan kreatifitas yang tinggi. Karya-karya mereka diakui dunia.

Seringkali kita bosan dengan sesuatu yang dikerjakan rutin. Dengan dalih untuk berinovasi kita kemudian menggembar-gemborkan, "Mari kita cari sesuatu yang baru!" Kita perlu berhati-hati jikalau semua hal baru itu semata-mata hanya berangkat dari kemalasan kita untuk mengerjakan apa yang seharusnya kita kerjakan. Dengan cara seperti itu kita kemudian akan terbiasa lalai dan hidup tanpa fokus yang jelas.

Apapun bidang kerja atau keahlian yang telah diberikan kepada kita oleh Tuhan sebagai talenta dari-Nya, baiklah kita berlatih di dalamnya dan juga berkarya lewatnya secara rutin. Justru dari kerutinan itu, inovasi yang sejati akan muncul, yang membuat pembelajaran dan karya-karya kita jadi beragam.

Kutipan-kutipan Bagus Soal Menulis

Friday, February 9th, 2007

Ada tiga kutipan bagus soal tulis-menulis yang saya dapatkan dari situs Escaeva.

1. "The way you define yourself as a writer is that you write every time you have a free minute. If you didn’t behave that way you would never do anything." (John Irving)

2. "If you don’t have the time to read, you don’t have the time or the tools to write." (Stephen King)

3. "Without words, without writing and without books there would be no history, there could be no concept of humanity." (Hermann Hesse)

Sebuah kutipan lain yang selama ini juga menggerakkan saya untuk terus menulis:

"Not because writing is much pleasure; but not to write is pain." (Frank Laurance Lukas)

Nah, kutipan terakhir ini tak terlalu terkait soal tulis-menulis, tapi baru-baru ini menginjeksi saya dengan tegangan tinggi:

"Semangat yang besar mendatangkan pikiran yang besar. Pikiran yang besar menimbulkan kekuatan yang besar. Kekuatan yang besar memungkinkah langkah yang besar." (Erich Watson)

Visi yang Sulit Membumi

Wednesday, February 7th, 2007

"Bila tidak ada wahyu maka liarlah rakyat." (Raja Sulaiman)

Wahyu yang tersebut di kutipan di atas dapat disamaartikan dengan visi. Visi adalah gambaran yang ada di dalam diri seseorang atau sekelompok orang tentang apa yang akan terjadi dan didapatkan di kemudian hari.

Tidak semua visi terjadi. Tidak semua mimpi menjemput kenyataannya. Di dalam pendidikan kita pun, visi yang terbangun di dalamnya masih sulit membumi. Di sana-sini yang terbangun hanya gagasan dan retorika: seputar Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), kebijakan soal tunjangan fungsional dan profesi, dan yang terakhir kurikulum. Yang terakhir ini ditargetkan pada tahun 2008 sudah terlaksana di sekolah-sekolah. Selain pesimis — karena targetnya setiap sekolah akan berotonomi dalam pembuatan kurikulum — siswa maupun guru banyak yang tak tahu dengan jelas kurikulum macam apa pula itu. Penyebutannya saja sampai sekarang masih rancu. Ada yang bilang KSTP (Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan); ada pula yang bilang KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Silahkan Anda gunakan mesin pencari di internet dan dua nama berbeda untuk kurikulum yang sama itu akan ditemui di berbagai media. 

Cyprianoes Aoer, wartawan pendidikan senior, di dalam bukunya "Masa Depan Pendidikan Nasional", di halaman 153 menyatakan "… pendidikan merupakan upaya-upaya untuk membantu anak menemukan dirinya dan mengembangkan segala kemampuan serta kreatifitasnya." Itu memang paralel dengan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diterapkan beberapa tahun silam (dan belum sepenuhnya). Bahkan pemikir-pemikir yang lebih senior, seperti Y.B. Mangunwijaya (Romo Mangun) dari Yogya, atau Paulo Freire dari Brasil, sama-sama menyepakati bahwa pendidikan merupakan usaha untuk mewujudkan realitas diri yang konkret dan bertitik tolak dari dalam diri siswa: kebutuhan mereka yang sifatnya dinamis. Upaya pemenuhan kebutuhan inilah yang pada gilirannya menjadikan pendidikan bersifat demokratis.

Freire dan Romo Mangun, yang adalah pemikir-pemikir pendidikan yang mendasarkan pemikirannya pada upaya pemenuhan pendidikan orang-orang dari kalangan rendahan di masa lalu, implikasinya masih relevan hingga sekarang. Wacana (berikut praktek) yang mereka bangun pas benar dengan kondisi pendidikan Indonesia yang masih morat-marit dan hanya berputar-putar di soal kurikulum dan beraneka kebijakan lainnya yang tersebut di atas. Tampaknya pendidikan, sama seperti saat mereka hidup, masih diadakan demi menjalankan fungsinya sebagai abdi penguasa, bukan berorientasi kepada kebutuhan rakyat.

Ganti menteri, ganti kebijakan. Itulah yang terjadi dalam pendidikan kita hingga saat ini. Kebijakan yang disusun, wacana yang dibangun, semuanya tampak bagus. Bambang Soedibyo, Mendiknas sekarang, menyatakan bahwa kebijakan pendidikan terbangun di atas tiga pilar yang penting: pemerataan serta perluasan akses pendidikan; peningkatan mutu dan daya saing keluaran pendidikan; dan penguatan akuntabilitas dan citra publik. Bagus, ketiga pilar itu bagus. Namun, berlangsungkah semua itu dalam kurun waktu yang panjang? Juga, dapat direalisasikankah hal-hal tersebut dalam jangka waktu yang pendek? Dua-duanya terjawab tidak.

Sedikit banyak kebijakan-kebijakan pendidikan ini terbangun oleh orang-orang yang mengaku dirinya pakar atau pemerhati pendidikan yang hendak bereksperimen dalam pendidikan. Layaknya ujicoba untuk menemukan sesuatu alat, pendidikan dijadikan ajang ujicoba untuk mencerdaskan bangsa. Namun, ujicoba tersebut tak berhasil. Pengujicoba-pengujicoba ini terlalu prematur untuk mengadakan ujicoba. Mereka tak terlatih, tapi tertatih-tatih. Hasilnya justru keterbelakangan. Sayangnya, mereka tetap terus mengadakan ujicoba. Mereka diakui sebagai ahli, pakar, pemerhati — atau apalah namanya — oleh para pengaku yang tidak tahu benar apa yang diakuinya.

Marilah kita menilik Jepang, yang pada beberapa dekade silam menerapkan sistem pendidikan tanpa pengawasan. Wacana ini begitu kuat, sehingga sekalipun tak termuat dalam kebijakan dan/atau konstitusi pada saat itu, prinsip ini menjalari warga Jepang dengan semangat untuk belajar, bereksperimen dan berkreasi. Hasilnya, Jepang maju seperti yang kita kenal sekarang. Tanpa banyak ba bi bu, tanpa perlu menjadi cangkeman dan mengiming-imingi rakyat dengan berbagai janji, tanpa mempersoalkan apa yang mereka bakal dapatkan dari sebuah pembelajaran, Jepang menjadi salah satu negara teratas dalam penguasaan ilmu pengetahuan.

Apa yang terjadi pada Jepang ini juga dipengaruhi oleh rakyatnya yang mau belajar dan tidak memble. Rakyatnya juga bersemangat. Rakyatnya mendisiplinkan diri mereka sendiri, melakukan beraneka pembelajaran, semata-mata bukan karena ingin mendapatkan taraf hidup yang lebih dari segi ekonomi. Tapi mereka menyadari bahwa membelajari dan menggali potensi diri itu penting. Dengan jalan itu kebijaksanaan mereka dapatkan sebagai bekal dalam hidup. Seperti yang tercetus dalam kata-kata Cicero ribuan tahun silam: “Tidak ada orang bodoh yang bahagia; tidak ada orang bijaksana yang tidak bahagia.” 

Semangat, itulah kuncinya. Pada diri setiap visioner terdapat semangat yang pada akhirnya menentukan perubahan di dalam sesuatu bidang. Pendidikan kita membutuhkan lebih dari sekedar beraneka wacana dan kebijakan yang dibangun dan dilaksanakan tanpa semangat untuk memperjuangkan pendidikan yang sesungguhnya. Semangat itu, pada akhirnya membuat pendidikan kita tak lagi tersengal-sengal dan mandek, tanpa kelanjutan dan hasil yang berarti.