Archive for January, 2007

“Kesintingan” dan “Pendekar” dalam Tesaurus

Monday, January 29th, 2007

Sudah dua minggu lebih saya membeli Tesaurus. Senang sekali membolak-
balik
halaman-halamannya. Namun, ada dua hal yang mengusik saya di
buku masterpiece
ini. Pertama adalah soal kata "kesintingan" yang
tertulis dua kali dalam
Mukadimah. "Namun, yang mengharukan saya,
mereka memaklumi kesintingan saya"
(halaman ix), dan satu lagi di
bagian akhir: "Mereka berempatlah, lebih dari
orang lain, yang
pertama-tama dan paling merasakan suka duka, pahit getir,
serta
kesintingan saya selama ini" (halaman x).

Saya merasa kata itu
tak tepat digunakan. Kesannya kok narsis, ya?
Lha proses membuat karya hebat
seperti itu kok dibilang kesintingan?
Bagi saya itu bukan kesintingan, namun
kerja keras — bila kita
menyimak proses pembuatannya yang tertuang di bagian
Mukadimah.

Yang kedua adalah endorser di sampul belakang buku: "Anton
M.
Moeliono, Pendekar Bahasa Indonesia". Kata "pendekar" apa tidak
lebih
baik diganti "pakar"?

Dua hal ini bagi para sastrawan saya rasa
tak terlalu mengganggu.
Para sastrawan mungkin menganggap itu hal yang lucu
dan mungkin bisa
bercanda: "Pendekar Bahasa, hahaha… memang jago silat kata
dia!"
dan/atau "Memang sinting penyusunnya, saking sintingnya hebat
sekali
dia mengumpulkan kata-kata sebanyak itu… hahaha…!" Namun,
bagi
khalayak luas saya rasa bisa mengganggu karena tak lazim.

Berbeda
dengan novel, kumpulan cerpen, dll. yang masih memungkinkan
kita untuk
menyelipkan guyonan, tesaurus, sedikit banyak bisa
disejajarkan dengan kamus.
Keduanya serius. Nah, di kamus yang ada
saat ini, misalnya Kamus
Inggris-Indonesia, kita tak membaca Hasan
Shadily menyebut dirinya "gemblung"
(sinonim kata "sinting" di
Tesaurus, hal. 603) di Prakata. Hasan lain,
bernama Hasan Alwi,
Kepala Pusat Bahasa, tak juga menyebut dirinya "senewen"
pada Prakata
KBBI (juga sinonim kata "sinting" di Tesaurus, hal. 603).
Fuad
Hassan, di sana (KBBI), tak ditulis sebagai "Pendekar Pendidikan
dan
Kebudayaan".

Demikianlah sedikit komentar dari saya. Semoga
berkenan. Di halaman
xv, penyusunnya sendiri menyatakan kalau tesaurus itu
"terbuka untuk
segala komentar, saran dan kritik. Ini tak lain demi
perbaikannya di
masa mendatang".

Catatan:

Saya sendiri tak tahu alamat e-mail
Eko Endarmoko, penyusun Tesaurus
Bahasa Indonesia. Posting ini saya tujukan
kemari agar bisa dicermati
(mungkin juga ditanggapi) oleh rekan-rekan di
sini. Sekaligus, bila
ada yang mengetahui e-mail Pak Eko, bisa
memberitahukannya kepada
saya agar saya teruskan langsung kepada beliau.
Komentar, saran dan
kritik bagi saya tak hanya dimuat dalam resensi di
media
cetak/online, tapi juga catatan kecil seperti ini. Terima kasih.

Antara Menulis dan Bergitar

Tuesday, January 16th, 2007

Kawan saya pernah menyatakan kalau kemampuan menulis sebenarnya lebih mudah dipelajari daripada bermusik. Ia kemudian berpendapat bahwa orang-orang yang menulis ya tinggal menulis saja karena semua orang yang melek aksara tinggal menulis. Ditambah sedikit pengetahuan tentang tata bahasa dari membaca buku semua orang bisa menulis dengan baik dan sesuai kaidah yang benar.

Berbeda dengan musik yang katanya membutuhkan keahlian khusus. Tak semua orang bisa bernyanyi dengan nada yang tepat saat sebuah kunci diperdengarkan, alias sumbang atau fals (kecuali dua orang bernama Doel dan Iwan). Tak semua orang bisa mempelajari musik. Dan tampaknya memang orang yang melek aksara jauh lebih banyak dari pada yang bisa main musik.

Saya tidak sepakat dengan anggapan ini. Ada teman lain yang menyatakan bila ditilik secara psikologis, kemampuan bergitar merupakan bagian dari ranah motorik, sedangkan menulis dari ranah kognitif. Namun, saya kurang memahami hal-hal psikologis tentang dua kemampuan ini. Saya belum banyak membaca buku psikologi. Yang saya tahu dua-duanya merupakan kecerdasan dan/atau keterampilan. Saya sedikit menguasai bergitar, dan sedikit juga menulis. Saya akan mengemukakan pendapat saya berdasarkan logika dan pengetahuan yang saya miliki.

Bila asal menulis, semua orang bisa menulis. Dosen penguji skripsi saya bergelar S2 (yang berarti telah menulis dan menyelesaikan tesis), dan saya kalah berdebat dengan dia soal frasa "di kemudian hari". Ia menyatakan kata "di" dan "kemudian" digabung. Padahal yang benar jelas tak digabung kan? Tapi, saya kalah berdebat karena waktu itu tak membawa buku tata bahasa — karya Gorys Keraf, misalnya. Siapa kamu, gundul, berani mendebat saya? Kamu kan baru S1! Mungkin itu yang dinyatakannya dalam hati.

Namun, untuk menghasilkan tulisan seperti Thomas Harris, misalnya, yang menulis "Hannibal", siapa yang mampu? Sedikit sekali. Sepengamatan saya novel itu banyak sekali memuat kata kerja yang operasional dan penggambaran situasi yang benar-benar matang. Ketika menyisirnya kata demi kata, hampir tidak ada satu kata yang tak terpakai untuk menjalin keutuhan kisah yang dibangunnya sepanjang novel.

Sekarang tentang musik. Gitar, dalam hal ini.

Yang namanya gitaris itu macam-macam: dari pengamen di bis kota hingga maestro seperti Steve Vai, atau Balawan di Indonesia yang sedang naik daun. Bila asal bergitar, banyak orang bisa bergitar.

Steve Vai, misalnya. Dalam album Steve Vai yang merupakan kompilasi karya-karya terbaiknya, berjudul "The Infinite Steve Vai: An Anthology" editor naskah album itu, Jon Wiederhon, menyatakan: "Alternative and punk bands have proven that anyone can play gitar, but only master like Vai can conquer its limitations and turn it from a mere six stringed instrument into an incredibly versatile and limitless voice of human expression." Band-band yang dimaksud kurang lebih ya seperti Limp Bizkit, Linkin Park atau Nirvana yang popular di tahun 90-an dulu. Steve Vai cukup unik. Dia bahkan kadang tampil menggunakan gitar berleher tiga: dua ke arah kirinya (bermain normal) dan satu leher ke arah kanan (untuk bermain kidal). Untuk mendapatkan inspirasi lagunya, ia tak jarang berpuasa dan bertapa.

Contoh lain adalah John Petrucci, gitaris grup band rock-progresif Dream Theater yang amat terkenal dengan lagu "The Spirit Carries On" ciptaannya. Untuk menjadi gitaris — dan pencipta lagu — dengan kemampuan seperti itu, usaha yang ditempuh tak main-main. John mengaku dalam vcd lesson "Rock Discipline", yang mana ia menjadi tutornya, bahwa ia melatih empat teknik berbeda selama dua jam sehari (satu teknik setengah jam) untuk mencapai kemampuan seperti yang ia miliki. Ia juga memiliki kliping yang memuat pelajaran seputar keempat teknik itu dari gitaris lain.

Kembali pada soal menulis.

Untuk menjadi penulis yang baik, kita harus tekun menulis; baik penulis sastra kelas berat bahkan penulis cerita anak-anak. Kate Di Camillo, yang memenangkan penghargaan Newberry Book lewat buku anak-anaknya "The Desperaux" (penghargaan yang diterima juga oleh Laura Ingalls Wilder lewat karyanya yang terkenal "Little House on the Praire") mengaku menulis sebanyak dua halaman setiap subuh selama lima hari dari hari Senin s.d. Jumat sebelum berangkat kerja ke toko buku.

Steinbeck, yang dikagumi oleh Pramoedya karena berhasil mengungkap detil-detil yang hebat dalam tulisannya, menulis apa saja ketika bangun tidur. Ya, apa saja yang melintas di kepalanya (mungkin kebanyakan berisi penggalan kisah-kisah yang direkonstruksi untuk novelnya). Kemudian, ia mandi. Setelah mandi dan beristirahat sebentar, ia ambil kembali kertas-kertas yang ditulisnya tadi itu dan menulisnya ulang dengan pikiran yang lebih jernih, dengan bahasa yang lebih rapi.

Sama seperti ujian yang tidak akan berhasil bila dipersiapkan semalam, demikian pula dengan menulis. Kita perlu konsisten, menetapkan target dan membuat dateline (atau deadline?) sendiri. Seperti kata Andrias Harefa bahwa kalau seorang penulis tak bisa memenuhi janjinya pada diri sendiri untuk menulis, lebih baik jadi politisi saja (yang suka ingkar janji).

Mozart mengaku bahwa selama hidupnya ia telah belajar komposisi-komposisi musik yang menurutnya yang terhebat. Ia menjadi hebat karena belajar dari yang terhebat. Seorang penulis juga harus demikian. A.S. Laksana dalam bukunya "Creative Writing" mengisahkan dengan kasihan seorang penulis yang menganggap dirinya bakal menjadi novelis hebat ketika sedang menulis sebuah novel, tapi untuk mencapainya ia tak mau membaca novel orang lain. "Biar orisinal," katanya.

A.S. Laksana kemudian meramalkan kalau novelnya tak bakal banyak dibaca orang. Saya setuju. Ya, bagaimana karya kita akan dibaca kalau kita tak pernah membaca karya orang? Hukum tabur-tuai kan berlaku dalam segenap aspek kehidupan, termasuk dalam berkarya. Kalau saya menyimpulkan bahwa alasannya di akhir paragraf sebelum ini yang termuat dalam tanda kutip tadi, bisa berarti dua hal: kesombongan dan/atau kemalasan.

Demikianlah, pada akhirnya anggapan kawan saya itu saya simpulkan tidak benar. Yang diperlukan seorang gitaris untuk menjadi hebat adalah terus berlatih dengan belajar dari gitaris lain yang lebih hebat, mendisiplinkan diri dengan berlatih rutin dan berkarya. Begitu pula dengan menulis.

Resolusi Menulis (Saya Rasa) Perlu Menyertakan Target

Monday, January 1st, 2007

Tahun baru telah tiba. Aktivitas telah kita mulai kembali. Mungkin beberapa hari yang lalu kita membuat resolusi. Bagi seorang penulis pemula seperti saya, resolusi menulis rasanya perlu menyertakan target.

Resolusi dalam hal karakter mungkin sederhana: saya ingin lebih sabar. Soal keuangan: saya ingin lebih teratur mengatur uang. Kalau soal menulis: saya ingin lebih rajin menulis. Nah, kerajinan ini yang saya rasa perlu dituangkan dalam target pencapaian kita sepanjang tahun.

Target ini, menurut saya bukan dikaitkan hanya dengan soal publisitas, tapi lebih utama pada soal produktivitas. Bukan hanya: tahun ini saya akan dengan segenap daya menembus Kompas; tapi, yang lebih utama: tahun ini saya akan mengarang cerpen sekian banyak; karena membuat target dengan publisitas sebagai orientasi utama akan menutup banyak peluang untuk kemunculan karya yang variatif.

Saya sendiri memiliki minat dalam beberapa bentuk kepenulisan: artikel, cerpen, renungan, puisi, novelet, hingga novel. Untuk setiap bentuk, di tahun ini saya sudah menargetkan berapa buah masing-masing yang akan saya buat. Jumlahnya bervariasi — misalnya target menulis novel tak sebanyak cerpen. Media yang akan saya tuju juga sudah saya buat daftarnya untuk menyocokkan karya yang dibuat dengan permintaan media yang bersangkutan. Target inilah yang pada akhirnya membuat hari-hari yang saya lalui terlewati dengan penuh makna. Ya, berdasarkan target itu saya tahu apa yang harus saya kerjakan tiap hari dan tiap minggu.

Apa yang saya sampaikan ini mungkin tak berlaku bagi penulis papan atas yang sudah mapan dan sejahtera. Setahu saya, mereka orang yang akan berkarya bila mereka merasa perlu berkarya. Tapi, penulis-penulis yang sudah sejahtera inipun kemungkinan besar di masa lalunya melakukan pendisiplinan diri seperti ini. Selain itu, banyaknya novel dan buku baru yang terbit di Indonesia beberapa tahun belakangan ini membuat kita tak bisa malas bila hendak menerobos pasar. Saya mengenal ada seorang penulis yang selalu minta dikasih info bila ada lomba atau sayembara menulis, tapi tak pernah sekalipun mengikutinya. Berkarya pun sangat jarang. Penulis ini biasanya menulis satu cerpen, terus dikirim. Kemudian tak pernah berkarya lagi hingga cerpennya tersebut dipastikan dimuat atau ditolak. Hal seperti ini di masa ini harus kita singkirkan.

Jepang menjadi maju karena selama beberapa dekade yang lalu mereka menerapkan sistem pendidikan tanpa pengawasan. Mereka membelajari diri mereka sendiri, berkarya, melakukan penelitian dengan giat dan tekun tanpa ada yang mengawasi. Saya rasa ini akan cocok bila dikaitkan dengan dunia kepenulisan: tak ada yang mengawasi kita (para penulis lepas, utamanya), tapi akankah kita terus belajar, berlatih dan berkarya — hari demi hari?

Akhirnya, selamat berkarya. Semoga apa yang saya sampaikan bisa memotivasi kita semua. Seorang teman dari Bengkel Imajinasi di Malang, memberi saya kata-kata penyemangat ini lewat sms menjelang akhir tahun: "Teruslah berkarya hingga tinta penghabisan!" Setengah berkelakar, saya membalas: "Bila tinta pulpen Anda habis, gunakanlah pensil!"