Archive for December, 2006

Dari Maria Ozawa Hingga Maria Eva

Sunday, December 17th, 2006

"Banyak orang sangat memperhatikan apa yang mereka makan, tapi tak mempedulikan apa yang mereka tonton." (Derek Prince)

Beberapa warung internet di kota Malang banyak menyimpan file-file porno. Beberapa yang saya ketahui adalah Dinoyo Net (1 dan 2), Dieng Net, Level 99+, Extreme dan Pojok Net. Saya rasa ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan orang-orang yang menggunakan warung internet di kota Malang. Warung-warung internet ini dimasuki file-file porno hampir di setiap PC-nya karena memiliki fasilitas CD-RW (bahkan kini beberapa telah meningkat menjadi DVD-RW).

Ketika hendak menyimpan beberapa data yang — kalau tidak salah saya ambil dari IMDb — sekitar setahun lalu, saya kaget ketika menemukan begitu banyak film porno di folder-folder yang ada di hard-disk-nya. Jujur saja, saya membukanya juga. Yang paling hebat bagi saya adalah bintang porno asal Jepang yang bernama Miyabi. Nama aslinya Maria Ozawa. 

Maria Ozawa menurut saya cukup cantik untuk menjadi artis sinetron. Kelemahannya, bagi saya cuma satu, pada gigi seri di rahang atasnya — gigi seri terdepannya — yang salah satunya "melengse", kata orang Jawa (menggeser). Seluruh tubuhnya bisa dikatakan sempurna, tanpa saya harus menyebutkan bagian-bagian mana.

Saya tidak tahu persis latar belakang Maria Ozawa memutuskan menjadi bintang film porno. Tapi untuk menjadi seorang bintang iklan baik-baik, atau fotomodel, tampaknya ia bisa eksis di sana.

Belakangan ada Maria lain yang bernama Maria Eva, yang video singkatnya bersama salah satu anggota DPR, Yahya Zaini, menjalar dari ponsel ke ponsel. Maria Eva, diduga melakukan semua itu karena album-albumnya yang gagal beredar di pasaran. Roy Suryo menyatakan di televisi bahwa kemungkinan terbesar dari penyebaran video itu adalah kesengajaan yang dilakukan oleh pihak Maria Eva.

Saya menggeser kemunafikan saya ketika membahas hal ini. Mungkin beberapa orang menganggap saya suci selama ini dan tak pernah menonton hal-hal porno. Itu tidak benar. Saya telah menonton film-film seperti itu beberapa kali walau kini saya dengan sekuat tenaga mengabaikannya. Tapi, saya rasa tak perlu diceritakan apa yang kemudian saya lakukan setelah film-film porno itu saya tonton. Yang jelas, bukan sebuah rencana untuk menikahi salah satu dari mereka, terutama Maria Ozawa.

Soal integritas orang lain, kebejatan pejabat, tak saya bahas karena saya hendak berkaca pada diri saya sendiri. Saya menonton orang bersetubuh, saya onani. Dan banyak orang berpikir bahwa onani adalah tindakan yang lebih ringan kadar dosanya daripada zinah. Saya kadang bertanya-tanya: bila saya (Anda juga) bila punya uang lebih, tahu di mana mendapatkan wanita pemuas birahi, mungkin kita tidak hanya onani, tapi menyetubuhi wanita itu (mungkin dengan menggunakan kondom biar aman). Setelah itu kita akan merasa lega — dan sayangnya juga kadang merasa lebih baik — karena telah puas, dan tidak ada orang lain yang tahu perbuatan bejat apa yang telah kita lakukan. Kita bahkan dapat melakukan sesuatu yang lebih gila dan bejat dibandingkan apa yang dilakukan oleh dua Maria di atas, dan orang lain tetap dapat menganggap kita orang baik karena kita aktor sekelas Al Pacino, misalnya, yang pandai berakting. Yang berbahaya adalah apa yang terjadi kemudian: kita mengetahui bahwa kondisi jiwa kita kacau — karena anggapan orang selalu baik tentang kita sedangkan kita jahat — dan kita bisa menjadi Hannibal Lecter yang dicari-cari FBI dalam novel Thomas Harris. Ya, psikopat mengerikan!

Saya tidak lagi ingin menjatuhkan nama baik orang-orang di atas. Mereka sudah jatuh nama baiknya, untuk apa ditambah-tambahi lagi. Namun, yang sedikit ingin saya soroti adalah dua soal lain.

Pertama, pelajaran yang kita dapatkan dari mereka. Menurut hemat saya, tindakan yang mereka lakukan merupakan perpaduan antara keinginan untuk mencapai keterkenalan yang yang menempel pada ketidakpuasan atas keadaan yang mereka hadapi saat ini, ditambah lagi dengan kemalasan. Mereka menjadi seperti itu karena ingin mendapat uang lebih banyak, terkenal dan deminya… rela melakukan apa saja, hingga bersetubuh dan disaksikan orang sejagad.

Kedua, adalah untuk diri kita sendiri. Seorang pengajar Alkitab bernama Derek Prince pernah menyatakan bahwa kita harus berhati-hati dengan apa yang masuk ke dalam pikiran kita. Ia menambahkan bahwa begitu banyak orang sangat memperhatikan apa yang mereka makan, tapi tak mempedulikan apa yang mereka tonton. Pornografi merusak hidup yang baik, yang dipercayakan oleh Tuhan untuk kita jalani. Pornografi menyebabkan kita kecanduan, dan kecanduan itu berakibat buruk pada kesehatan jiwa kita.

Maria Ozawa, Maria Eva, dan semua Maria yang lain (entahlah dengan Maria Mercedes), di zaman kini dapat melayang-layang di benak kita dengan ketelanjangan dan persetubuhannya yang menggoda. Pilihan ada di kita: akankah kita membiarkan angan kita dipenuhi oleh mereka, atau justru mengambil pilihan untuk mengabaikannya?

Dari Singkawang Hingga Bangka Belitong (3-habis)

Monday, December 4th, 2006

Selama KKN sepeda motor saya kerap dinaiki 4 orang anak sekaligus — jadi lima dengan saya — pada sore hari ketika kegiatan KKN telah usai. Saya dipercaya menjadi Kordes (Koordinator Desa, mengetuai 18 teman saya yang ditempatkan sedesa dalam pengadaan dan pelaksanaan program-program KKN). Ketika malam hari, dengan para pemuda-pemudi desa dan beberapa orang tua kami membakar jagung di posko KKN sambil memandangi lampu-lampu berkelap-kelip di kota Malang. Lagu favorit untuk malam- malam itu adalah "Kemesraan" dan "Sri Minggat".

Saya juga berkesempatan mengajar di SD Negeri Gadingkulon selain berpidato beberapa kali di depan para aparat desa. (Asyik juga rasanya pidato di depan orang-orang tua yang selalu menganggap serius, mengangguk-angguk dan mengiyakan "apa kata mahasiswa".) Murid-murid di sana hanya bersepatu ketika berangkat dan pulang sekolah. Selama belajar sepatu dilepas dan diletakkan di luar kelas agar kelas tak kotor. "Sekolah jadi mirip sholat Jumat," kata teman saya bercanda — dia sendiri justru beragama Islam (jadi jangan pikir saya sedang mengolok orang Islam).

Selama dua bulan itu, April-Juni 2004, saya benar-benar merasakan banyak perubahan dalam cara memandang orang lain dan bagaimana memiliki hidup yang memiliki arti bagi orang lain. Masa-masa itu sampai sekarang masih membekas dan terbayang-bayang di malam hari sebelum tidur. Saya kerap membayangkan bagaimana jikalau saya berada di sebuah tempat di pedalaman Afrika — Kalahari, misalnya, dalam film "God Must be Crazy" — tentulah saya akan merasakan perubahan lain yang lebih besar.

Saya tidak sedang bicara tentang menjadi pahlawan saat ini. Saya sebenarnya kurang suka dengan istilah itu. "Pahlawan tanpa tanda jasa", "pahlawan lewat pena", atau apalah namanya, saya agak muak mendengarnya. Saya rasa ini alasannya: setiap orang yang mampu menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri, pada gilirannya akan menjadi pahlawan bagi orang lain. Istilah itu tak perlu dibesar-besarkan karena semua orang pada intinya adalah pahlawan, bahkan orang-orang yang tak berdaya sekalipun. Cuma kita kerapkali melupakan jati diri kita sebagai pahlawan sehingga kita memuja orang lain yang kita anggap pahlawan. Tak perlu memuja-muji orang lain (secara berlebihan), begitu pula diri sendiri. Tak perlu mengidap inferiority complex, atau menjadi narsis.

Akhirnya kuliah saya selesai. Maret 2006 saya diwisuda. Pekerjaan saya hingg kini ya menulis. Saya bukan penulis hebat yang karyanya selalu dimuat. Kalau dihitung-hitung, jumlah karya saya yang dikirimkan dibandingkan yang dimuat sangat jauh. Mungkin 6:1. Enam yang dikirim dan 1 di antaranya yang dimuat. Namun saya belajar untuk tak menyerah.

Karena berusaha menuruti nasehat Stephen King: penulis harus banyak membaca, saya banyak membaca selepas kuliah. Namun kebanyakan karya fiksi. Tiga seri "Lord of the Rings" plus "The Hobbit" saya habiskan sebulan. Beberapa karya Astrid Lindgren, Kate Di Camillo, Stephen King, Tolstoy, C.S.Lewis, ditambah sebuah karya John Grisham, Jhumpa Lahiri dan Harper Lee dalam enam bulan terakhir ini sudah saya baca. Namun, saya merasa masih ada yang kurang, selain kadangkala juga bosan bila terus-terusan membaca dan menulis fiksi.

Dan saya tahu kekurangan itu ketika membaca sebuah buku karya Andrea Hirata: "Laskar Pelangi" yang mengisahkan perjuangan anak-anak Bangka Belitong dalam menempuh pendidikan. (Saya juga telah membaca sekuelnya: "Sang Pemimpi".) Buku itulah yang seolah-olah menyalakan kembali minat saya terhadap pendidikan. Ya, pendidikan, itulah yang saya rasa perlu untuk saya perdalam. Andrea mengaku sempat menangis 3 kali ketika menuliskan karakter Lintang di dalam buku itu. Saya juga menangis ketika membacanya walau saya lupa berapa kali. (Keharuan dan kekaguman saya bukan hanya bangkit dari karakter Lintang, tapi keseluruhan kisah.)

Demikianlah, blog ini akhirnya saya buat untuk memetakan catatan-catatan reflektif seputar kepenulisan dan pendidikan. Minat saya di dalamnya dinyalakan oleh apa yang telah saya bentangkan sebelumnya. Namun ini semua bukan hanya soal minat. Sisi lain yang terutama adalah soal refleksi itu sendiri. Refleksi-refleksi yang tertuang berikutnya semoga menjadi penelusuran pada setiap nilai yang saya anggap penting untuk dikembangkan dari apa yang sedang dan telah saya pelajari lewat berbagai wacana, pengalaman, atau keadaan, dan pada gilirannya… semoga mendatangkan manfaat bagi yang berminat serupa untuk sama-sama berefleksi. (Tamat)