Archive for November, 2006

Ketika Tulisan Tak Layak Muat dan Kalah Lomba

Wednesday, November 29th, 2006

"Aku dapat tidur di suatu hari dengan nyenyak bila telah menyelesaikan jadwal menulis yang kubuat untukku di hari itu." (Stephen King)

Saya kalah dalam sebuah lomba yang baru-baru ini diumumkan para pemenangnya. Ya, lomba mengarang cerpen Femina. Guru saya dalam menulis, Arie Saptaji, menjadi salah satu pemenang penghargaan di lomba itu. Cerpennya memang hebat. Saya sempat membacanya sebelum di-online-kan di situsnya waktu saya berkunjung ke rumahnya di Yogyakarta lebih dari setengah tahun silam. Namun, yang saya tulis berikut bukan hanya soal lomba itu. Yang saya alami selama empat tahun berkecimpung di dunia kepenulisan adalah kekalahan semata-mata.

Tulisan saya amat jarang dimuat media cetak. Padahal saya sudah membaca buku sastra sebanyak mungkin: dari tentang menulis, novel, kumpulan cerpen, atau resensi buku. "Sebanyak mungkin" yang tadi saya tulis adalah dalam ukuran saya: 1 buku 1 minggu. Dan buku-buku itu tentulah bukan buku anak-anak yang kadangkala hanya memuat 1 kalimat dalam 1 halaman — sisanya digunakan gambar ilustrasi. Seingat saya, buku-buku yang saya baca kebanyakan berjumlah halaman lebih dari 200 halaman. Dan halaman-halaman itu kalau bisa disimpulkan berisi tulisan yang dapat disamakan dengan huruf Times New Roman berukuran 10 dan berspasi tunggal.

Saya sudah membaca sebanyak mungkin dan menulis sebanyak mungkin, tapi selalu saja: ditolak. Bukan hanya ditolak, saya pernah juga di-sms-i dengan sms yang seolah memuat gelegar amukan oleh salah satu redaktur koran terkemuka ketika saya menanyakan cerpen saya layak muat atau tidak: ditulis dengan huruf-huruf besar dan diakhiri dengan tanda seru lebih dari satu. Saya memang salah karena amat terburu-buru menanyakan cerpen itu. Baru sekitar seminggu dikirim, ditanyai layak muat atau tidak. Ya jelaslah… diamuk!

Apa yang saya alami mungkin juga dialami oleh penulis lain. Karya kita tak kunjung dimuat dan kita tak sabar menunggu hasil. Kita kerap melihat-lihat koran di kios terdekat dengan rumah tanpa membelinya, juga tanpa memperhatikan halaman muka namun langsung menuju ke ruang di mana kemungkinan tulisan kita akan dimuat. Keadaan ini saya muat dalam cerpen saya yang berjudul Kembali Pada Sepi: bagaimana hidup seorang pengarang yang terus berkarya, rajin membaca, namun selalu menghasilkan karya yang hanya pantas menuju ke tong sampah dalam kantor redaksi atau "trash" dalam mailbox e-mail redaksi? 

Ada orang yang mungkin akan mengurangi intensitas menulisnya ketika mengalami hal ini. Orang-orang ini dalam pembenaran anggapannya mulai berangan-angan memiliki karya  serupa Harper Lee yang buku sematawayangnya memenangkan Pulitzer. Mereka mungkin akan berpikir: kalau bisa aku akan menulis 1 buku atau karya saja seumur hidupku, sesuatu yang  benar-benar hebat, sebagai pembuktian bahwa aku penulis hebat, dan kemudian aku baru mati. Dengan cara demikian mereka berharap akan dikenang sebagai pengubah sejarah.

Tapi saya lebih memilih bersikap lain. Saya menulis bukan karena ingin diaku sebagai penulis hebat pada nantinya. Saya menulis karena saya mencintai menulis. Oleh karena itu tak masalah bagi saya bila karya-karya saya dimuat majalah yang menurut orang amat kacangan: Sahabat Pena, misalnya. Bila dibandingkan dengan Kompas atau Koran Tempo mungkin 1:100 bobot sastranya. (Kau hendak mengubah sejarah lewat cerpenmu di Sahabat Pena? Yang benar saja, gundul!)

Saya kerap membayangkan — saya rasa semua penulis suka membayangkan sesuatu — adanya majalah-majalah gendeng pengimbang yang sudah ada, yang mungkin mau memuat tulisan saya: Kartono (bila cerpen saya ditolak Kartini), Maskulin (bila ditolak Femina), MuSuhmu (bila ditolak KaWanku) atau Perjaka (bila ditolak Gadis). Kalau Kompas mungkin enaknya diganti Senter (sama-sama menjadi alat para pendaki gunung).

Diaku sebagai penulis hebat atau tidak adalah anggapan orang. Bahkan karya kita yang dilemparkan ke keranjang sampah oleh redaktur bisa dianggap amat hebat oleh orang lain, setidaknya pacar kita. Inilah yang pada akhirnya menjadi batu uji bagi para penulis. Masihkah kita akan menulis ketika orang tak membaca karya kita? Dan masihkah kita mau belajar lewat membaca dan menumbuhkan kepekaan agar tulisan kita menjadi lebih baik? Seperti yang dikatakan Budi Darma bahwa banyak cerpenis Indonesia yang mengarang cerpen semata-mata karena bergabung dengan suatu komunitas sastra atau dipesan tulisannya oleh suatu media. Ia menambahkan bahwa bila penulis itu dilepas sendiri, masihkah ia akan berkarya?

Karya-karya Kafka diterbitkan anumerta, begitu juga sebagian karya Tolkien. Tolkien sendiri merilis buku yang ia karang sendiri, The Hobbit (bukunya yang pertama ia karang bersama E.V. Gordon dkk. pada tahun 1936  berjudul "Songs for the Philologists"), saat ia berusia 45 tahun. Ia menulis keseluruhan trilogi "The Lord of the  Rings" (LotR) selama kurang lebih tiga belas tahun (yang baru diterbitkan tahun 1954-1955). Tolkien bahkan pernah mengaku kalau dirinya bukan penulis hebat. Inilah karya-karya yang digarap dengan cinta kepada aksara. Inilah yang membuatnya mempelajari bahasa Anglo-Saxon kuno yang kemudian dimodifikasinya sendiri sebagai bahasa peri dalam LotR. Kecintaan pada bahasa, saya rasa adalah satu landasan yang bagus untuk membangun dunia kepenulisan.

Memang, Tolkien lebih beruntung daripada Kafka karena namanya sudah dikenal luas sebelum ia meninggal sehingga beberapa karyanya diterbitkan anumerta. Tapi, poin yang  saya ingin tegaskan adalah kecintaan Tolkien pada bahasa. Itulah yang membuatnya mengarang setiap karya-karyanya dengan sesempurna mungkin. (Saya tidak tahu apakah dia lebih gila dalam soal kesempurnaan dibandingkan Tolstoy yang mengedit "Anna Karenina" sebanyak lebih dari 120 kali sebelum naik ke penerbitan.)

Tanpa bermaksud menjadi naif, saya rasa bila rasa cinta itu sudah ada, rasanya kok mau kalah lomba, ditolak redaksi, tak terlalu masalah. Sing penting (sinau lan) nulis, kalah (utawa ora dimuat) yo wis!*)

***

*) Terjemahan: Yang penting (belajar dan) menulis, kalah (atau tak dimuat) ya tidak apa-apa!

Dari Singkawang Hingga Bangka Belitong (2)

Wednesday, November 29th, 2006

Setelah tamat SMU tahun 1998 saya lolos UMPTN dan diterima di Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Selama 1 semester saya bertahan di sana. Semester berikutnya saya merasa bosan kuliah. Waktu SMU saya masuk di Jurusan IPA, dan orang tua saya berharap saya bisa masuk ke Jurusan Kedokteran setelah tamat SMU. Waktu itu persaingan UMPTN sangat ketat dan saya yakin kalau saya bakal kalah di Kedokteran.

Kemudian saya ikut UMPTN lagi pada tahun 1999. Selama kuliah di Pertanian saya jarang membaca buku-buku pertanian, lebih banyak filsafat atau psikologi. Akhirnya saya mengambil Jurusan Sejarah, yang saya rasa dekat dengan minat saya, karena Jurusan Filsafat dan Psikologi tak ada di Universtas Brawijaya atau Universitas Negeri Malang. Sebenarnya saya ingin mengambil kuliah di kota lain tapi orang tua saya ingin saya kuliah di Malang; mereka ingin bersama dengan saya karena semasa SMU saya ikut dengan nenek di Semarang.

Program yang saya ambil adalah pendidikan, bukan non-kependidikan. Selama setahun pertama saya cukup antusias kuliah. IP saya nomor dua tertinggi di kelas. Jiwa kepemimpinan mulai bangkit karena kerap dipercaya jadi ketua kelas dan pemimpin diskusi. Selama dua-tiga tahun berikutnya saya mulai sadar kalau memimpin dan berbicara di depan banyak orang ternyata mengasyikkan.

Di gereja saya juga terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan. Saya dipercaya untuk menjadi redaktur warta gereja, pemimpin kelompok sel dan bahkan koordinator tim musik. Di gereja juga saya mendapatkan seorang pacar yang sangat menyukai pendidikan. Dia bercita-cita menjadi guru sejak kecil. Sayangnya dia masuk Jurusan Akuntansi di salah satu universitas swasta di Malang setelah gagal UMPTN. Dia sendiri agak menyesal dengan pilihannya waktu itu.

Kami cukup dekat hampir setahun; setelah itu bubar karena alasan tak jelas. Selama dekat dengannya saya banyak belajar nilai-nilai tentang kasih sayang, pengorbanan, kedisiplinan dan kasih pada anak-anak kecil. (Di setiap hari Minggu dia mengumpulkan beberapa anak kecil yang jadi tetangganya dan mengajari mereka berbahasa Inggris gratis.) Saya masih ingat kalau dulu dia pernah saya pinjamkan buku tentang bagaimana mengelola kelas yang efektif dan dia sangat senang dengan buku itu. Masih banyak kenangan lain yang kami lalui bersama — yang tak terkait dengan pendidikan (sehingga tak perlu diceritakan).

Kegiatan gereja yang padat akhirnya membuat kuliah saya keteteran. Klise. Skripsi saya tak digarap-garap hingga akhirnya kuliah molor hingga 6 setengah tahun. Selama masa-masa "mempermolor" kuliah ini saya mulai aktif menulis. Itu terjadi karena sebuah lomba di bulan November 2002. Karya tulis saya yang pertama, sebuah cerpen anak-anak, menjadi pemenang ketiga dalam Pekan Ilmiah dan Sastra Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Dari situ kepercayaan diri saya bangkit. Saya menulis dan menulis. Hingga kini sejumlah tulisan saya dimuat di beberapa media massa nasional.

Pada masa-masa ini juga saya mulai sedikit menyimpang dari apa yang diajarkan di kelas-kelas kuliah. Saya berkenalan dengan Bill Wilson dan George Mueller lewat karya-karya atau kisah hidup mereka. Sangat patriotik. Mereka adalah para pendeta yang mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Bill Wilson adalah pendeta untuk kaum terbuang di Brooklyn yang mendirikan Metro Ministries dan memiliki program sekolah minggu luar biasa yang telah diadaptasi oleh banyak gereja di seluruh dunia. Bacalah bukunya "Whose Child is This?" ("Anak Siapakah Ini?") dan kita akan tahu bagaimana beratnya memperjuangkan edukasi pada orang-orang terlantar. George Mueller adalah bapak bagi para yatim piatu yang selama hidupnya telah membesarkan dan merawat anak asuh sebanyak lebih dari 9500 anak. Ia adalah pendoa yang tekun dan hidup sangat saleh.

Selain mereka berdua, saya sempat mempelajari sekilas hidup Mahatma Gandhi, David Livingstone dan Bunda Teresa. Saya juga membaca buku "Totto Chan" yang sangat luar biasa. Semua yang saya pernah baca dan pelajari itu akhirnya mendekati kenyataannya dalam hidup saya sendiri saat saya KKN (Kuliah Kerja Nyata) di desa Gadingkulon, sekitar 10 kilometer dari kota Malang.

Di desa Gadingkulon yang tak jauh dari kota Malang, mata saya mulai melek dengan apa yang saya pelajari. Seorang anak, bernama Edi Susanto, umurnya masih 7 tahun waktu itu, yang sedikit kekurangan kasih sayang, setiap hari tidur di samping saya di Posko KKN selama saya KKN. Beberapa anak lain juga kerap berkumpul bersama dengan saya tiap sore untuk bernyanyi bersama. Lagu favorit kami adalah "Oemar Bakri". (Bersambung)

Sedikit Perbandingan antara Anton Chekov dan Harper Lee

Thursday, November 23rd, 2006

Proses kreatif menulis bermacam-macam. Saya rasa bagi kita yang menyukai tulis-menulis tak perlu meniru siapapun, tapi berjuang menemukan jati diri kita sendiri. Selama kita memiliki jadwal yang baik dan target, yang kelaknya berujung pada pendisiplinan berkarya, semuanya akan baik-baik saja. Tanyakanlah pada Stephen King kalau tidak percaya.

Namun saya sedikit tergelitik dengan Anton Chekov, raja cerpenis Rusia, yang di dalam 1 hal saya merasa agak mirip dengannya: menyukai guyonan dalam tulisan. Dan saya akan membandingkannya dengan Harper Lee, penulis "Tequilla Mockingbird". Eh salah, "To Kill a Mockingbird".

Chekov adalah penulis yang produktif yang awalnya mengarang cerita untuk majalah humor yang humor-humornya "sadis-sadis", dalam arti benar-benar kasar. Di majalah humor itu Chekov kerap menggunakan nama samaran seperti: "Saudaranya Saudara Saya", "Manusia Tanpa Limpa", "Antonskaya Chekotske", "Anton Chekhonte", dan lain-lain. Ya, bisa ditebaklah kira-kira karakter penulisnya dari nama-nama samarannya. Ia lakukan itu untuk bertahan hidup dan membantu keluarganya yang kesusahan ekonomi. Cukup berhasil. Karya-karyanya diminati banyak orang. Kepenulisannya, menurut sebagian kalangan mencapai puncak pada tahun 1886 dan 1887 di mana ia dapat menulis 100-an cerita setahun. Ia dikenal luas karena selalu melukiskan realita kaum papa dalam karya-karyanya tanpa "propaganda artifisial".

Tentang Chekov, Koesalah Sobagyo Toer menyatakan kalau ia sekaliber Dokter Tjipto Mangunkusumo yang berjuang bagi rakyat jelata di Indonesia. Chekov adalah penulis rakyat; Dokter Tjipto adalah dokter rakyat yang aktif memberantas penyakit pes semasa hidup dan pengabdiannya. Bedanya, Chekov apolitik. Itulah yang saya sukai soal menjadi penulis. Ia tak menjadi pribadi yang yang termakan paham komunis dengan bercita-cita adiluhung untuk memperjuangkan prinsip "sama rasa, sama rata".

Harper Lee, selama hidup hanya mengarang 1 buku. Buku pertamanya langsung menyikat Pulitzer. Seperti Jhumpa Lahiri lewat "Interpreter of Maladies". Juga, seperti Barbra Streisand yang tampil benar-benar hebat (cantik, lucu, bersuara merdu dan sedikit manja) dalam film "Funny Girl" di tahun 1968: debut akting pertama, langsung menggondol Oscar.

Jhumpa Lahiri tetap mengarang (buku barunya yang belum sempat saya baca dalam terjemahan Indonesia adalah "The Nameshake", atau "Arti Sebuah Nama"). Barbra Streisand tetap main film. Yang paling membuat saya penasaran adalah film "The Way We Were" karena mendengar lagunya saja saya diterbangkan oleh nuansa romantis yang amat kental — setingkat dengan "Love Story", "Over the Rainbow" atau soundtrack Godfather yang terkenal: "Speak Softly Love". Sayang — dan sialan — mencari filmnya susah amat!

Bagaimana dengan Harper Lee? Stephen King menduga kalau setelah mengarang ia mungkin sibuk mengurus bazaar di gerejanya; sama dengan Thomas Harris, pengarang trilogi terkenal "Silence of the Lambs"-"Hannibal"-"Red Dragon" yang baru mengarang lima buku. Stephen bercanda kok. (Tentang Thomas Harris: "Red Dragon" dan "Silence of the Lambs"-nya terbitan GPU — berbahasa Indonesia — kok tak ada lagi ya di toko buku? Ah, mungkin terlalu laku keras. Yang sempat saya baca justru novel tengah dari trilogi itu: "Hannibal".)

Begitulah… dari secuil perbandingan ini kita dapat menarik pembelajaran bahwa setiap penulis berbeda-beda proses kreatifnya dan intensitas berkaryanya. Dan saya lebih memilih menjadi diri sendiri yang menulis apa saja 4 jam sehari (3 siang + 1 malam, 2 siang + 2 malam, dan kemungkinan kombinasi penjumlahan lainnya), kecuali hari Sabtu dan Minggu.

Catatan: Maaf, sedikit meluas ke film.

Dari Singkawang Hingga Bangka Belitong (1)

Tuesday, November 21st, 2006

Ini adalah latar belakang tumbuh dan berkembangnya minat saya pada dunia pendidikan. Saya akan membaginya dalam dua atau tiga posting. Semula saya berencana meng-update blog ini bulan depan atau tahun depan. Tapi rasanya tangan gatal juga mengetik kalau sudah di depan komputer. Untuk keseluruhan posting berikutnya saya akan mengubah kata ganti aku menjadi saya. Alasannya mungkin sederhana saja: lebih enak didengar, menurut saya. Okay, here we go….

***

Saya dibesarkan di Kota Amoi, Singkawang. Dari TK hingga SMP saya berada di sana. Semasa berada di sana, ibu saya menjadi guru pada sebuah TK swasta, TK Flora. Karena di sana banyak sekali orang keturunan Tionghoa yang tak bisa berbahasa Indonesia, maka ibu saya cukup menguasai bahasa Kek yang dipergunakan orang-orang di sana — lain dengan bahasa Mandarin. Ibu saya kerap menggunakan bahasa Kek saat mengajar di kelas.

Saya tak bisa — tak cukup menguasai — bahasa itu karena saya bersekolah di mana bahasa Kek tidak terlalu kerap dipergunakan. Saya hanya bisa makian dalam bahasa Kek saja karena waktu kecil hingga remaja saya suka memaki-maki orang. Saya rasa tak perlulah makian-makian khas Kek ditulis di sini. Sekarang sudah tobat.

Pengabdian ibu saya pada dunia pendidikan, itulah pertama-tama yang menggugah minat saya. Kelihatannya dia tampak senang menjadi guru. Murid-muridnya, yang hampir semua bermata sipit, sangat menghormatinya. Tas ibu saya kerap dibawakan ketika masuk sekolah oleh anak didik, kehadirannya membuat beberapa anak menghambur sesaat dari kerumunan yang mereka buat sebelum bel masuk kelas berbunyi. Bahkan rasa hormat dari para orang tua murid cukup besar sehingga membuat saya berpikir: enak juga jadi guru.

Selain sekolah itu, saya juga menjadi anggota dari Gereja Protestan Kristus Mulia (GPKM). Saya menjadi ketua remaja di gereja itu. Kami beribadah di panti asuhan di samping-belakang Hotel Mahkota yang terkenal karena belum memiliki gedung sendiri. Kami diijinkan beribadah di sana karena beberapa majelis gereja juga menjadi pengurus yayasan yang mengelola panti itu.

Anak-anak panti asuhan itu memang tampak asing bagi kami, para warga gereja. Mereka rata-rata pemalu dan susah didekati. Hanya di dalam kesempatan seperti Natal atau Paskah kami beribadah bersama. Selain kedua momen itu, mereka beribadah di gerejanya masing-masing yang saya tak ketahui di mana saja. Saya hanya memperhatikan kehidupan mereka dari jauh. Kebanyakan dari mereka orang Dayak. Saya mendengar beberapa kisah tentang mereka yang kadang cukup memprihatinkan.

Tamat SMP saya memutuskan untuk melanjutkan SMA di Semarang. Pertimbangannya karena bapak saya yang menjadi pegawai di Badan Pertanahan Nasional sudah mengajukan pindah ke Jawa. Bapak saya memiliki 10 saudara dan kebanyakan saudara ingin agar bapak pindah ke Jawa agar dapat kembali bersama. Daripada pindah dan kemudian menyesuaikan lagi dengan suasana baru (menjadi murid baru) di Jawa, lebih baik saya mendahului, itulah yang saya pikirkan. Akhirnya pada tahun 1995 saya masuk ke SMU Negeri 6 Semarang dan tinggal bersama nenek saya, ibu dari ibu saya.

Selama SMU saya tak banyak tertarik dengan pendidikan. Saya menekuni hobi yang sejak SMP sudah saya kembangkan: bermusik. Saya mempunyai tiga grup band: 1) Flatus (tahu kan kalau artinya jorok; itulah nama cetusan anak-anak pemaki), grup band yang saya bentuk dengan teman-teman saya sekampung di Randusari, Semarang; 2) Visioner, grup band dengan teman-teman sekelas waktu kelas 2 SMU; dan 3) Neo-Six, grup band sekolah yang anggotanya diambil dari berbagai-bagai kelas lewat pemilihan yang selektif. Hampir setiap hari yang dikerjakan main gitar (walaupun menurut saya hingga kini saya masih tak lihai-lihai bermain). Ke studio musik bisa dua hingga tiga kali seminggu selain berlatih di studio sekolah yang peralatannya agak minim. Festival-festival kami ikuti, dan beberapa di antaranya kami jadi pemenang.

Dua tahun kemudian orang tua dan saudara-saudara saya menyusul pindah ke Jawa. Namun, bapak saya ditempatkan di Surabaya. Saudara kami (kakak ayah saya dan keluarganya) ada yang tinggal di Malang pada waktu itu, bahkan hingga kini. Karena salah satu rumah mereka tidak ditempati maka akhirnya kami mendiaminya. Lagipula, jarak Malang-Surabaya tak terlalu jauh dan setahu saya banyak pegawai yang bekerja di Surabaya dan bertempat tinggal di Malang. (Bersambung)

Berubah! (Melucu Itu Susah)

Saturday, November 18th, 2006

Bulan depan, atau mungkin tahun depan, aku berencana mengubah blog ini. Selama ini aku menulisnya dengan bahasa Inggris dengan anggapan lewatnya aku bisa belajar "writing" dengan lebih baik. Tak ada salahnya; namun kurasa waktunya belum tepat.

Waktu-waktu ini, bahkan kukira hingga akhir tahun 2007 aku akan lebih banyak menulis dalam Bahasa Indonesia. Selama ini aku telah menulis fiksi (cerpen, cerpen anak, novelet) puisi dan renungan rohani — semuanya berbahasa Indonesia. Sekarang lagi menggarap novel untuk diikutkan lomba DKJ. Nah, kegiatan-kegiatan inilah yang sebenarnya cukup menjadi bukti kalau konsentrasiku tercurah penuh di situ. Aku sedang membangun sebuah dunia kepenulisan yang kurasa juga akan menjadi bagian dari karirku di masa mendatang; dan untuk hal ini beberapa hal yang tak terlalu terkait harus disingkirkan.

Sama dengan gitar yang kutargetkan akan kupelajari lebih intens dua tahun lagi (2008), bahasa Inggris akan kupelajari kemudian lebih intens (entah kapan — mungkin saat aku merasa perlu melanjutkan pendidikan lebih tinggi). Yang jelas, aku memiliki target: setelah aku memiliki lima buah buku, aku baru merambah ke hal-hal lain (gitar, English, film, atau lainnya).

Lagipula kusadari kalau beberapa tulisan Inggris-ku terkesan main-main. Sepanjang tahun ini aku benar-benar menggilai Paul Gilbert yang suka "main-main" lewat musik, aransemen dan lagu ciptaannya. Belakangan juga aku suka baca buku-buku Stephen King yang suka "main-main" dengan ceritanya. Mereka hebat dan lucu. Kadang ingin sama seperti mereka tapi kok rasanya tak mampu. (Bayangkan, guyonan Stephen King dalam bukunya berjudul "Bag of Bones" begitu hebat atas novel "To Kill a Mockingbird" karya semata wayang Harper Lee. Dia berkata, oleh para pemabuk novel itu disebut "Tequilla Mockingbird"! Sampai sekarang aku masih terpingkal-pingkal bila mengingatnya!)

Kini, ada sesuatu yang selalu menggodaku saat aku menulis fiksi, puisi dan renungan. Itu adalah niat untuk menulis hal-hal seputar pendidikan dan juga kepenulisan. Untuk tulisan seputar pendidikan, dulu, sekitar tiga bulan lalu, aku sudah merencanakan hal ini di blog Wordpress yang kubuat. URL-nya di: akuguru.wordpress.com. Namun niat itu terbengkalai. Aku tak mengisinya dengan satu posting pun. 

Nah, di sinilah aku akan mencoba untuk menulis apa saja seputar pendidikan dan kepenulisan. Tulisan-tulisan yang kubuat mungkin akan berjumlah sekitar 3000-4000 karakter dengan spasi per tulisan. Rencananya, 1 minggu 1-2 tulisan.

Puisi, fiksi, renungan rohani dan artikel pendidikan-kepenulisan. Empat jenis. Hmm, kurasa ini kombinasi menarik untukku. Semoga Tuhan menginspirasiku selalu. Dan, satu yang benar-benar kurindu: aku bisa melampirkan guyonan dalam tulisan-tulisanku. "Kulampirkan Guyonan dalam Tulisan", kelihatannya asyik juga dijadikan judul buku.