Pindah
May 27th, 2008 by tuanmalamKarena beberapa alasan teknis, blog ini dipindah ke:
Isinya tetap sama, tentang refleksi edukasi dan kepenulisan.
~s.n~
Karena beberapa alasan teknis, blog ini dipindah ke:
Isinya tetap sama, tentang refleksi edukasi dan kepenulisan.
~s.n~
Tahun 1889, Prancis memperingati seabad revolusinya. Negara itu melaksanakan peresmian menara Eiffel. Di kaki menara metalik raksasa itu tampak beberapa gong perunggu dan gamelan Jawa. Seorang komponis muda berbakat terpana ketika mendengar suaranya dan di kemudian hari berkomentar: "Jika Anda mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, And
a harus mengakui bahwa musik kita tak lebih dari sekedar bunyi-bunyi dasar sirkus keliling." Komponis itu bernama Claude Debussy.
Terlepas dari kemampuan orang Barat yang tampak lebih lihai daripada kita dalam mengajarkan musik lewat partitur, penggolongan irama, bahkan tablatur untuk gitar, Debussy terkesan dengan "getaran keindahan suara itu sendiri." Suara itu beresonansi secara indah, membuatnya boyak terhadap harmonisasi nada-nada yang selama ini menjadi kekuatan dan pesona bagi musik-musik Barat.
Debussy memadukan musik Barat dan gamelan, karena dirasanya gamelan adalah sebuah seni bernilai tinggi, sementara kita selama ini yang hidup "bersama gamelan" mungkin menganggap musik Barat bernilai lebih tinggi.
Debussy, dalam jiwanya yang gelisah, mencoba tafsirkan apa yang ia gapai dan tangkap dalam kepekaannya lewat karya yang sarat kombinasi. Belajar dari seniman ini, kita seolah diajak melihat bahwa keindahan ada di mana-mana. Memaknai keindahan, jiwa kita yang fana dan sementara ini kerap berubah-ubah selera. Musik adalah seni. Hidup adalah seni. Menghayati hidup bagai menghayati seni. Keduanya butuh kepekaan. (~s.n~)
"Poleslah kebijaksanaan Anda: pelajari kebijaksanaan umum, bedakan antara baik dan jahat, pelajari berbagai falsafah berbagai seni satu demi satu." (Miyamoto Musashi)

"Perlu ada upaya melihat,
upaya melihat dengan menjungkirbalikkan segala makna yang sudah ada,
untuk sampai pada yang tak dikenal,
hidup sejati yang berada di tempat lain …."
Sepenggal puisi di atas adalah karya Arthur Rimbaud. Tahun 1874, saat berusia dua puluh tahun, ia tergila-gila berkelana ke mana-mana, hingga ia akhirnya mati di Marseille pada 10 Oktober 1891.
Nah, dia pernah "nyasar" ke Indonesia!
Apa yang menyebabkan dia ke Indonesia hingga kini masih samar. Diduga, itu karena ia mendengar kisah-kisah tentang Hindia-Belanda waktu bekerja sebagai kuli di pelabuhan. Pada bulan Juli tahun 1876 ia sampai di Indonesia. Ia sempat ada di Jakarta dan di Salatiga. Berada di tangsi militer jiwanya gundah. Penyair ini tidak cocok. Ya, dia nyasar. Diam-diam ia meninggalkan Indonesia dan kembali ke negerinya, Prancis.
Puisinya di atas adalah sebentuk pemetaan dari realitas-demi-realitas tangkapannya hasil kelana-demi-kelana. Renungan memang jadi sangat luar biasa bila dipadu dengan kelana. Bahwa kebahagiaan-kesedihan yang berusaha kita gerapai suka-dukanya kadang terenungi keliru dan semrawut ketika dihadapkan dengan kelana.
Di dunia ini, akan selalu ada "tempat lain" (kutipan dari puisi yang ditulis Rimbaud di atas) untuk kita cari dalam rangka membentuk makna sebuah sisi kehidupan. Manusia selalu mencari dan tidak puas, sehingga baiklah kita menyadari sebuah keadaan penting: bahwa saat ini, di sini, ada sesuatu yang penting dan berharga untuk kita raih. Bahwa saat ini, di sini, ada sesuatu yang harus kita kerjakan dan beri perhatian untuk membuat hidup kita memiliki makna. (~s.n~)
"Kebijaksanaan datang sendiri melalui penderitaan." (Aeschylus)
"Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari." (2 Korintus 4:16)
Dosen saya yang lucu suatu ketika mengomentari sebuah merek sabun. "Iku sabune babu dulu… (Itu sabunnya babu dulu…)," katanya. Kalau tidak salah ini terjadi di matakuliah Studi Masyarakat Indonesia waktu saya kuliah empat-lima tahunan lalu.
Merek sabun yang ia sebut dan kami tertawakan sedang mengalami perubahan. Waktu itu, sabun itu, dengan model iklan yang baru, sedang mengubah citranya sebagai sabun elegan dari sabune babu. Kini bahkan modelnya berubah lagi. Ia aktris yang amat ternama. Iklannya terkesan glamor dan gencar ditayangkan. Sabune babu tampaknya kian populer, dan mungkin juga kian diminati.
Suatu ketika saya iseng-iseng beli sabun itu beberapa bulan lalu. Yang berubah hanya luarnya, alias bungkus sabunnya. Sabunnya sendiri, berikut wanginya, bentuknya — nyaris tetap: sabune babu.
Kontras dengan pemaparan dan lelucon di atas, Paulus mensyukuri kelemahan dan kemerosotan dalam dirinya. Walaupun kondisi tubuh yang membungkusnya tua, renta, terpenjara dan menderita, roh yang ada dalam dirinya selalu membara.
Kehidupan kita, apakah mirip seperti sabun itu? Mungkin yang berubah hanya luarnya: kita tampak makin awet muda, lebih cantik/tampan, lebih segar dan berseri-seri. Kita rajin pergi ke salon, rajin olahraga, langganan berbagai jenis perawatan, dan lain-lain. Kelak, tubuh ini — yang hanya merupakan bungkus sementara dari diri kita yang sebenarnya — akan kita tinggalkan. Sudah saatnya kita memberi perhatian pada diri kita yang sebenarnya. (~s.n~)
"Kebijaksanaan mengacu pada pengupayaan pencapaian tujuan-tujuan yang paling baik dengan cara-cara terbaik." (Frances Hutcheson)
Condamné à mort!
Dihukum mati! Ya, siapa yang dapat memetakan pikiran seseorang yang tinggal beberapa saat saja menjalani hidup? Victor Hugo mencoba tuturkan apa-apa saja yang melintasi benak seseorang yang akan dihukum mati dalam Le dernier jour d’un condamné (Hari Terakhir Seorang Terpidana Mati).
Di sana, digambarkan bahwa setiap menit berisi gagasan. Mimpi bagai menyatu dengan kenyataan. Kepedihan membaur dengan kengerian. Hidup, setiap saat, serasa amat berarti. Bahkan, segala sesuatu yang dilihat, dirasa, diraba — semuanya dicoba untuk dicari-cari detilnya, sebagai bahan untuk dituangkan dalam kata-kata yang terbatas, untuk memaknai hidup dalam waktu yang merambat.
Salah satu renungan terpidana yang menghenyakkan adalah: "Semua orang telah dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan yang tidak ditentukan." Bukankah benar demikian? Bukankah suatu saat kita mati? Yang menjadi masalahnya adalah: kadang kita lupa suatu saat kita akan mati.
Kematian memang bukan akhir segalanya. Namun, cara kita menyongsong kematian itu penting. Itu tergantung pada hingga sejauh mana kita mempertahankan apa yang kita percayai selama hidup kita. Kalau selama hidup kita goyah iman, bagaimana kita bisa yakin dengan iman itu kalau maut menjemput? C.S. Lewis berkata, "Engkau tidak akan pernah tahu seberapa besar kepercayaanmu mengenai sesuatu hal sampai hal itu menjadi masalah antara hidup dan mati." Ya, hingga nafas terakhir terhembuskan, setialah pada iman kita! (~s.n~)
"Ketakutan selalu muncul dari ketidaktahuan." (Ralph Waldo Emerson)
Setelah mengajar, seringkali evaluasi atas pelajaran yang saya sampaikan, saya bungkus lewat kuis. Saya membagi anak-anak dalam beberapa kelompok, lalu beberapa babak kuis dilaksanakan: mulai dari tebak lagu dari nada-nada yang saya mainkan lewat gitar, tebak gambar yang dibuat oleh seorang siswa di papan tulis, atau cerdas cermat seputar materi yang telah disampaikan.
Anak-anak kecil seringkali tak siap kalah. Bahkan, orang besar juga. Makanya, tak jarang ada anak-anak yang menangis bila kelompoknya mendapatkan nilai yang kecil, atau terkecil, saat kuis digelar. Menyiasatinya, suatu ketika setelah mengajar saya menuliskan besar-besar di papan: "Siap Menang, Siap Kalah." Semua anak saya minta untuk mengucapkan empat kata itu keras-keras. Lalu, saya bertanya: "Siapa yang mau kuis hari ini?"
Hampir seluruh kelas mengangkat tangan. Ketika tangan-tangan mereka turun, saya bertanya lagi, "Bagaimana jika ada yang kalah?" Seisi kelas diam. Lalu saya tunjuk kata-kata di papan yang saya tulis. Anak-anak tersenyum. Kuis berjalan dengan lancar.
Manusia — besar atau kecil — semuanya sebenarnya menyukai tantangan. Seorang anak yang sering kalah saat kuis, bagi saya tampak selalu bersemangat dan terus mencoba menjawab dengan benar. Persoalannya hanya satu: kita tidak diajarkan untuk siap kalah. Kita berjuang, melakukan yang terbaik, belajar, karena merasa harus menang. Kita perlu siap kalah karena kita tak selalu menang. Kita harus siap kalah karena dunia ini kadang tidak berlaku adil kepada kita. (~s.n~)
"Seseorang yang belum pernah ditipu tidak dapat menjadi seorang pebisnis yang baik." (Peribahasa Cina)
Sekarang, dunia penerbitan-perbukuan tak seperti dulu. Lihatlah toko-toko buku. Orang-orang mudah menerbitkan buku, walau sebelumnya tak punya nama dan pengalaman akademis yang relevan dan memadai dalam dunia tulis-menulis. Zaman dulu, menerbitkan buku itu susah.
Gejolak ini adalah sinyal yang baik di satu sisi. Bangsa Indonesia jadi demokratis. Jauh sebelum Indonesia mengalami kemajuan ini, di Amerika telah ada tren atau slogan yang berbunyi "publish or perish" — "terbitkan atau mati". Saya mendapat slogan ini dalam buku Wishnubroto Widiarso berjudul Pengalaman Menulis Buku Nonfiksi. Publish or perish adalah slogan di kalangan ilmuwan di Amerika. Ilmuwan bisa menerbitkan buku karena menekuni benar apa yang dia geluti. Latar belakang ini, seharusnya menjadi cermin bagi para penulis kita: sudahkah ia menekuni benar apa yang ia tulis?
Sinyal yang buruk adalah semua orang berlomba-lomba untuk menerbitkan buku — tanpa penyaringan yang ketat, tanpa memikirkan manfaat buku yang ditulisnya, tanpa mempedulikan akibat isi bukunya, atau tanpa penggarapan yang serius.
Kehidupan kini telah menjadi serba-instan. Mi instan, minuman instan, segala yang instan, kita tahu seringkali tak sepenuhnya baik. Junk foods, begitu istilahnya — makanan sampah. Ada efek sampingnya, kata para pakar kesehatan. Begitu pula buku-buku instan. Karenanya, waspadai bacaan Anda, jangan sampai Anda membaca junk books — buku-buku sampah. (~s.n~)
"Kekuatan sebuah pohon terletak pada akarnya - bukan pada cabangnya." (Peribahasa Belanda)
Seorang teman saya, penulis fiksi, mempunyai impian untuk dapat Booker Prize, penghargaan yang amat bergengsi dalam dunia kepenulisan. Ia bukan seorang megalomania — bermimpi besar tanpa melakukan apa-apa. Ia sudah mengarang dua buku dan terus produktif. Nah, untuk mencapai impian itu ia mengungkapkan cara belajar-berkarya yang amat menarik untuk disimak.
Untuk semakin baik menulis, dia menyatakan membaca dua jenis buku. Jenis pertama adalah buku yang benar-benar bagus. Jenis kedua adalah buku yang buruk. Lho, kenapa yang jenis kedua juga dibaca? Nah, inilah poin pentingnya: bila karya buruk bisa diterbitkan, dibaca, hingga digemari, bukankah berarti semua karya mempunyai peluang diterbitkan?
Cara kedua yang disampaikan teman saya itu baik. Sebagai penulis, bila seseorang membaca karya-karya bagus terus, ia pasti akan frustasi: bahwa sampai mati pun mungkin ia tidak akan bisa menulis sebagus karya itu!
Saya tidak sedang mengajak Anda untuk menurunkan standar atau niat pencapaian Anda dengan mempelajari karya atau hasil usaha orang lain yang kita nilai buruk atau biasa-biasa saja. Dua cara belajar-berkarya ini, pada hakikatnya menunjukkan bahwa tiap manusia dikaruniai tingkat bakat yang berbeda-beda.
Hakikat hidup adalah berkarya. Dalam berkarya sering kita tidak sempurna, dan kemudian kecewa. Itulah yang harus kita tepis, seraya mencoba lebih dan lebih baik, dengan melihat karya-karya lain: yang lebih baik dan yang lebih buruk. (~s.n~)
"Seni menjadi bijaksana adalah tahu apa yang harus diabaikan." (Anonymous)
Pada tahun 2003, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengukur kecerdasan siswa-siswa sedunia dalam bidang sains, membaca, dan matematika. Hasilnya, Finlandia menjadi negara peringkat pertama. Keunggulan mereka bukan hanya dalam tiga hal itu, tapi juga pendidikan bagi anak-anak lemah mental.
Intinya, Finlandia adalah negara yang punya kemampuan hebat mencerdaskan anak-anaknya. Apa kuncinya?
Kualitas guru. Itulah jawabannya. Paling tidak, itulah salah satunya yang berperan besar. Profesi guru di Finlandia sangat dihargai walau tak bergaji fantastis. Saingan dan saringan untuk menjadi guru di sana cukup ketat, dan kemudian, setelah menjadi guru — ini dia: Mereka bebas menggunakan metode belajar apapun, bebas memakai kurikulum rancangan sendiri, bebas menentukan buku teks pilihan sendiri. Mereka menjadi yang terbaik karena dibebaskan.
Bebas atau kebebasan kerap dikonotasikan negatif. Sebutlah seks bebas, pergaulan bebas, atau bebas semau gue. Nah, sadarkah kita bahwa kebebasan yang kita miliki sebagai manusia adalah kebebasan untuk melakukan hal yang berharga dan mulia? Dosa, dalam kerangka berpikir ilahi — harus kita pahami sebagai ikatan. Dosa bukanlah ruang bagi kebebasan. Jadi, orang yang memiliki dasar dan pemahaman yang benar tentang kebebasan, akan menggunakan kebebasannya untuk menjadi yang terbaik. Nah, bagaimana dengan Anda? (~s.n~)
"Saya belajar bahwa lingkungan mempengaruhi saya, tetapi saya harus bertanggung jawab atas semua yang saya lakukan." (Anonymous)
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28)
Sebuah buku baik ternyata tak harus tebal dan mahal. Baru-baru ini saya membaca sebuah buku tipis nan lawas karya Lanny W. Baily. Judulnya Mengatasi Persoalan Hidup. Buku ini mencoba mengurai persoalan-persoalan yang dialami manusia dalam terang firman Tuhan, dikaitkan dengan psikologi populer.
Salah satu hal menarik adalah bahasan tentang depresi. Di sana dikatakan bahwa yang paling besar porsinya dalam membentuk depresi di diri seseorang adalah sebuah faktor B. Apa itu? Faktor A adalah kejadian, B adalah persepsi dan C adalah depresi. Seorang istri yang suaminya kurang perhatian lagi padanya (A), dapat membuat persepsi bahwa dirinya kini tak menarik lagi (B), sehingga dia kemudian depresi (C). Begitu kira-kira.
Jadi, yang salah bukanlah apa yang terjadi. Yang salah adalah persepsi, pendapat, interpretasi kita, atau apalah nama dan istilahnya: intinya yang kita buat sendiri dengan diawali dan disebabi sebuah peristiwa dalam hidup kita. Saya jadi teringat sebuah kata-kata bijak yang menyatakan: "Kehidupan bukanlah hal-hal yang terjadi dalam diri kita, tapi bagaimana sikap kita terhadap hal-hal yang terjadi itu."
Bagaimana? Selama ini apakah kita masih sering mudah berpikiran negatif? Ketika kita mudah menafsirkan hal yang tampak buruk sebagai sesuatu yang benar-benar buruk, maka benak kita akan selalu dipenuhi dengan hal-hal yang buruk. Padahal, Tuhan berjanji, di dalam segala sesuatu Ia turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, bukan keburukan.
"Yakinkanlah, bahwa kehidupan yang Anda kejar, cukup berharga untuk diperjuangkan sampai mati." (Charles Mayes)